Jakarta (ANTARA News) - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan sering mengundang perhatian orang di sekitarnya.

Kali ini, Selasa (7/5), Dahlan melakukan aksi merangkak di lantai sejumlah pabrik gula di Jawa Timur yang dia kunjungi.

Dahlan melakukan hal tersebut demi memompa semangat karyawan yang sudah bekerja keras untuk membalikkan kondisi pabrik dari sebelumnya kumuh menjadi bersih, dari yang rugi menjadi untung.

Pagi itu usai shalat subuh, Dahlan yang sebelumnya menginap di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, langsung memulai kunjungannya ke tiga pabrik gula yaitu PG Olean, PG Pandjie, dan PG Asembagoes yang semuanya berada di Situbondo.

Menggunakan kendaraan dengan jarak 80 kilometer, pabrik gula pertama yang dikunjungi Dahlan adalah PG Olean.

Dahlan langsung turun dan melihat dari dekat pabrik yang sudah pernah dikunjunginya sekitar Desember 2011 itu.

Namun ketika melihat kondisi pabrik yang sudah berubah wajah dari pabrik gula "duafa", kotor dan jorok menjadi bersih dan "kinclong" Dahlan langsung berjalan merangkak di lantai salah satu sudut tempat proses penggilingan tebu.

Dibalut rasa bangga dan senang, Dahlan mengajak seluruh karyawan untuk mengikutinya merangkak.

Tanpa pikir panjang para karyawan langsung saja ramai-ramai merangkak dengan perasaan senang bahwa hasil kerja mereka sudah membuahkan hasil.

"PG Olean hebat...PG Olean bangkit...anda semuanya hebat," teriak Dahlan sambil berteriak.

Aksi merangkak dan memberi semangat kepada karyawan pabrik gula, juga dilakukan Dahlan Iskan ketika mengunjungi PG Pandjie dan PG Asembagoes yang semuanya berada di wilayah Situbondo.

Menurut Dahlan, ketiga pabrik gula yang baru saja dikunjungi tersebut sudah berubah total menjadi pabrik gula yang mampu meningkatkan produksi dengan rendemen yang lebih tinggi.

PG Olean pada 2011 rugi sebesar Rp2,773 miliar, namun pada 2012 sudah mencatat untung sebesar Rp16 juta.

PG Pandjie membukukan untung Rp18,471 miliar, dari sebelumnya rugi Rp2,7 miliar, sedangkan PG Asembagoes dari untung Rp36,1 miliar, kini meningkat hampir dua kali lipat yang mencapai Rp69,58 miliar.

Sedianya, pemilik Jawa Pos Group ini, akan melanjutkan kunjungan ke Pabrik Gula Prajekan, di Kabupaten Bondowoso, dan PG Kadaung di Kabupaten Pasuruan, namun tiba-tiba dibatalkan karena Dahlan harus mengikuti Rapat Terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan.

Kegiatan Dahlan mendatangani pabrik gula merupakan rangkaian dari kunjungan yang sudah dilakukan sehari sebelumnya di sejumlah pabrik gula di Madiun, yaitu PG Rejo Agung milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PG Pagotan milik PTPN XI, dan PG Kanigoro.

Pada 2011 PG Rejo Agung mengalami defisit Rp4 miliar, namun pada 2012 mencetak untung Rp66 miliar.

Jika pada 2011 kapasitas produksi di bawah 500 ton per tahun, kini sudah mencapai di atas 550 ton dengan tingkat rendemen menjadi 6,88 melonjak dari sebelumnya 6,3.

PG Pagotan yang pada akhir tahun 2012 memproduksi gula sebanyak 29.000 dengan rendemen 7,62, melonjak dari produksi 19.000 ton dengan rendemen 6,8. PG Pagotan ini membukukan laba bersih Rp18 miliar, melonjak dari sebelumnya yang mengalami rugi Rp15 miliar.

PG Kanigoro, milik PTPN XI yang didirikan pada tahun 1894, sebelumnya rugi R13,8 miliar, pada 2012 mulai untung sebesar Rp25 juta.

Selanjutnya di Kabupaten Probolinggo tiga pabrik gula, yaitu PG Wonolangan sudah untung Rp26 miliar, PG Gending untung Rp134 juta dari sebelumnya rugi Rp9 miliar, dan PG Pajarakan dari rugi Rp9,2 miliar 2011 menjadi untung Rp4 miliar Rp2012.

Dahlan menuturkan, bahwa modal dasar kebangkitan pabrik-pabrik gula tersebut adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. "Orangnya sama, mesinnya tetap, tapi memberikan hasil berbeda," tegas Dahlan.

Sebelumnya pada awal 2012, ketika Dahlan baru menjabat sekitar 3 bulan sebagai Menteri BUMN, ia mengumpulkan seluruh PG karena prihatin dengan kondisi yang merugi.

Acara yang berlangsung di Surabaya dengan nama "Bahsul Masail Kubro", ketika itu melahirkan tekad bulat untuk bangkit dengan tanpa mengganti mesin baru.

Namun dengan perbaikan sumber daya manusia, dan perubahan pola usaha, ternyata membuahkan hasil positif.

"Dalam revitalisasi pabrik gula, yang penting perubahan pola pikir SDM. Kini hasilnya menjadi kenyataan," ujar Dahlan.