Berlin (ANTARA News) - Jerman setuju menjual 164 tank bekas kepada Indonesia, kata pemerintah negara tersebut pada Rabu, sesudah parlemen Belanda pada tahun lalu menolak permintaan serupa dengan alasan masalah hak asasi manusia.

Pemerintah Kanselir Angela Merkel memberi lampu hijau kepada pembuat senjata berpusat di Dusseldorf, Rheinmetall AG, untuk menjual tank itu kepada Jakarta, kata wanita juru bicara kementerian ekonomi.

Ia menyatakan harga keseluruhan sekitar 3,3 juta euro (lebih kurang 43 miliar rupiah), dengan menunjukkan bahwa lebih dari 100 tank tempur Leopard 2 dan kendaraan lain itu adalah bekas pakai.

Dewan keamanan negara Merkel memutuskan izin ekspor senjata itu dalam pertemuan tertutup dan biasanya tetap tutup mulut hingga rinciannya disiarkan dalam laporan tahunan ekspor sarana pertahanan.

Tapi, pemerintah dipaksa melepaskan keterangan tentang kesepakatan itu setelah permintaan resmi anggota parlemen partai Hijau Katja Keul, yang menerbitkan tanggapan di lamannya.

Pengiriman itu termasuk 104 tank Leopard 2 dan 50 kendaraan tempur infanteri Marder 1A2 serta amunisi. Di antara 10 tank lain adalah kendaraan untuk medan pegunungan, pemasang jembatan dan penggusur tanah lapis baja.

Indonesia, perekonomian terbesar Asia Tenggara, pertama kali meminta tank itu pada 2012 dalam kunjungan Merkel, dengan berjanji tidak menggunakannya terhadap rakyatnya.

Partai lawan di bekas penjajah Indonesia, Belanda, menghentikan usul kesepakatan atas tank dengan negara itu.

Juru bicara Merkel, Steffen Seibert, pada Rabu membela ekspor itu dan menyebut Indonesia mitra penting, yang sebelumnya menerima sarana pertahanan Jerman.

"Indonesia, dalam pandangan pemerintah Jerman, sejak 1998 mengalami perubahan politik mendalam menuju sistem politik demokratis," katanya, "Upaya perubahan pemerintah Indonesia berlangsung terus."

Ia mengingatkan bahwa Merkel, dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Berlin, memuji negara kepulauan itu sebagai teladan untuk keragaman agama.

Pemerintah Merkel meningkatkan penjualan senjata ke negara dianggap mitra strategis dan baru-baru ini menyetujui pengiriman bermasalah senjata ke Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab, demikian AFP.
(B002/Z002)