Selasa, 29 Juli 2014

Menteri Pertanian: jangan lengah tangani penyakit hewan

Kamis, 6 Juni 2013 07:58 WIB | 2.497 Views
Menteri Pertanian: jangan lengah tangani penyakit hewan
Menteri Pertanian Suswono saat meninjau suatu sentra penggemukan dan pembibitan sapi (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Denpasar (ANTARA News) - Menteri Pertanian Suswono mengingatkan kepada para peternak agar tidak lengah dalam menghadapi berbagai jenis penyakit yang dapat mengancam hewan ternak mereka.

"Saat ini pemerintah sudah berhasil menangani flu burung, namun pengawasan harus tetap dilakukan sehingga penyakit tersebut bisa teratasi secara maksimal," katanya seusai pembukaan pemeran dagang internasional di Nusa Dua, Bali, Rabu.

Dalam menangani penyakit tersebut, dirinya berharap ada peran serta dari masyarakat untuk ikut serta mengawasi dan mencegah potensi penyebaran penyakit berbahaya tersebut.

"Tangan pemerintah terlalu pendek, tidak bisa menjangkau sampai ke pelosok. Jika ada kesadaran masyarakat, maka akan memperkecil potensi munculnya penyakit pada peternakan," katanya.

Selain itu pemerintah akan terus mendorong para peternak untuk meningkatkan produksi peternakannya.

Untuk meningkatkan produktivitas peternakan unggas, pihaknya akan merevitalisasi semua rumah potong hewan (RPH) secara bertahap agar dapat menampung hasil produksi ternak potong yang semakin bertambah.

Dalam mengembangkan RPH dirinya memerlukan investasi yang besar, tetapi bisa direalisasikan oleh kelompok-kelompok peternak besar sehingga bisa menampung produktivitas para peternak di daerah itu.

"Semula RPH itu dipersiapkan untuk pemotongan hewan hingga lebih dari 50 ekor/hari dengan produksi higienis. RPH serupa hanya ada 10 unit di Indonesia termasuk di NTB (Nusa Tenggara Barat)," katanya.

RPH itu juga telah memproduksi daging beku untuk dipasarkan ke luar daerah karena sudah ada mesin pendingin dan fasilitas pendukung lainnya.

Kini di NTB telah memiliki daging produk lokal yang diberi nama Sasambo Beef. Nama itu mencirikan asal sapi, yakni dari Pulau Sumbawa dan Lombok.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga