Rabu, 30 Juli 2014

Alih fungsi lahan pertanian ancam ketahanan pangan

Minggu, 23 Juni 2013 15:01 WIB | 4.782 Views
Alih fungsi lahan pertanian ancam ketahanan pangan
Seorang wisatawan memotret pamandangan sawah di Jatiluwih, Tabanan, Bali. Sawah seluas 303 hektare di Kabupaten Tabanan itu diproteksi dari alih fungsi lahan sekaligus dikelola menjadi obyek wisata setelah diakuinya Subak oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.(ANTARA/Nyoman Budhiana)
Denpasar (ANTARA News) - Alih fungsi lahan pertanian di Bali dalam lima tahun belakangan ini sangat mengkhawatirkan sehingga bisa mengancam ketahanan pangan masyarakatnya, kata Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr I Wayan Windia.

"Dalam lima tahun terakhir terjadi alih fungsi lahan sekitar 5.000 hektare, atau setiap tahunnya rata-rata 1.000 hektare," ujar Windia, yang juga Ketua Pusat Penelitian Subak Universitas Udayana itu di Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, dalam lima tahun sebelumnya rata-rata sawah di Bali berkurang sekitar 750 hektare setiap tahunnya.

Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan penjualan sawah, dan dinilainya, semakin cepat dan semakin meluas karena jual beli sawah itu tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, namun juga sampai kepedesaan.

Ia mengemukakan, terjadinya penjualan sawah dengan kecenderungan yang terus meningkat itu menunjukkan masyarakat setempat mulai kurang menghargai warisan leluhurnya, padahal sawah itu dibangun dengan berdarah-darah.

Mungkin, menurut dia, masyarakat belakangan ini telah berkembang menjadi orang yang serakah, pragmatis, dan kemudian idealisme kalah melawan arus pragmatisme-globalisasi.

Windia menjelaskan, globalisasi dunia ditandai dengan persaingan yang ketat, dan diwarnai dengan konsumerisme, materialisme, dan kapitalisme.

"Kalau kita kalah, maka kita akan terlindas, dan akibatnya seluruh sistem sosial masyarakat, termasuk kebudayaannya akan menjadi debu. Sawah, subak, dan sistem pertanian adalah landasan dan bagian integral dari kebudayaan Bali," ujarnya.

Kawasan Subak di Bali dibangun secara susah payah oleh para leluhur masyarakat Bali karena membuat sawah di kawasan Bali yang berlereng-lereng sangat sulit.

Bahkan, mereka harus membelanya mati-matian setelah sawahnya jadi. Ini pula yang membuat Subak diakui Oganisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) dihargai sebagai Warisan Kebudayaan Dunia.

Oleh sebab itu sawah-sawah yang ada harus tetap dapat dipertahankan, dilestarikan dan sedapat mungkin tidak dijual, demikian harapan Windia. (*)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca
Baca Juga