Jumat, 22 Agustus 2014

Pemimpin nasional dan dunia global

Sabtu, 24 Agustus 2013 23:11 WIB | 7.910 Views
Pemimpin nasional dan dunia global
Para delegasi berfoto bersama dalam pertemuan RCEP pertama di Brunai Darussalam. (ASEAN Secretariat)
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia sedang "demam". Demam yang semoga bukan penyakit, tapi demam yang justeru membawa obat terhadap berbagai penyakit kronis yang sedang menimpa bangsa ini.

Dari penyakit kemiskinan dan malnutrisi anak-anak bangsa, keterbelakangan dalam sistem pendidikan, kesemrawutan dalam dunia perpolitikan, hingga korupsi yang seolah telah menjadi "tabiat" (karakter) bangsa yang mengakar. Seolah, jika tidak korupsi maka itu bukan sesuatu yang Indonesia. Wal-iyadzu billah! (semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini).

Demam yang saya maksudkan adalah demam politik. Demam yang sedang melanda bangsa ini karena akan memasuki masa-masa pemilihan nasional, baik pada tataran legislatif maupun eksekutif. Partai-partai politik sedang demam mempersiapkan kuda-kuda untuk memenangkan pemilu mendatang. Para calon juga demam mempersiapkan diri memasuki gelanggang pertarungan menuju perebutan kursi nasional.

Lalu bagaimana gerangan bentuk kepemimpinan nasional mendatang? Bagaimana Indonesia saat ini, serta arah perjalanan dunia di zaman global abad 21 ini? Kira-kira bagaimana bentuk kepemimpinan yang mampu membawa Indonesia memasuki pertarungan global yang sengit itu?

Sebelum saya menyebutkan beberapa kriteria tersebut, ada baiknya kita mengenal dunia kita saat ini. Dunia kita saat ini dikendalikan oleh pergerakan globalisasi yang dahsyat, dengan karakter kecepatan. Kemajuan dunia transportasi dan telekomunikasi yang dahsyat menjadikan segala sesuatu bergerak secara sangat cepat. Sehingga gerakan atau keputusan hidup yang lamban akan sangat tidak menguntungkan dalam dunia yang serba cepat itu.

Kemajuan transportasi dan telekomunikasi juga secara langsung menjadikan dunia kita semakin mengecil. Dunia yang hampir tidak ada lagi batas-batas di antara manusia. Dan oleh karenanya, hampir tidak ada lagi "rahasia di antara kita", termasuk rahasia intelijen, bahkan Amerika sekalipun. Situasi dunia seperti ini biasanya digambarkan oleh para sosisologis modern sebagai "global village" atau kampong global.

Pada akhirnya dunia global juga ditandai dengan kompetisi dalam segala skala kehidupan manusia yang sangat hebat. Dan semua pihak, mau atau atau tidak, harus terlibat dalam kompetisi ini. Jika tidak, maka dia akan dengan sendirinya menjadi korban kompetisi dunia kita.

Bahkan dapat dikatakan bahwa saat ini, sesungguhnya dunia tidak lagi didominasi oleh siapa-siapa. Istilah Amerika sebagai "super power" itu adalah istilah usang. Kenyataannya Amerika telah banyak berutang kepada negara ketiga, yang justru dianggap tidak demokratis, yaitu China.

Nah, di tengah dunia global seperti ini, di manakah nantinya Indonesia akan menempatkan diri dan memainkan peranan? Dan seperti apakah pemimpin Indonesia yang akan menyetir bangsa dan negara besar ini ke dalam arena pertarungan dunia yang global itu? Sebab mau atau tidak, Indonesia hanya punya satu pilihan untuk survive, yaitu mengambil bagian secara aktif dalam pertarungan global tersebut.

Lalu bagaimana kira-kira bentuk kepemimpinan nasional ke depan yang akan menyetir bangsa bangsa dan negara ini kepada kebangkitan globalnya?

Dalam pandangan saya ada beberapa karakter utama yang harus terpenuhi sebagai berikut:

Pertama, bahwa pemimpin nasional saat ini perlu berwawasan global dan visioner. Yaitu pemimpin yang memahami setiap detak pergerakan dunia global dalam segala nadi kehidupannya, termasuk ekonomi, politik, militer, maupun budaya dan agama.

Kedua, bahwa pemimpin Indonesia haruslah seseorang yang memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Dunia tidak lagi dikendalikan oleh kekuasaan, tapi oleh kemampuan manajemen yang tangguh.

Ketiga, bahwa pemimpin Indonesia harus memiliki kemampuan bisnis yang matang. Hal itu karena dunia saat ini mengalami goncangan perekonomian yang dahsyat, dan berakibat fatal kepada perekomian bangsa.

Keempat, bahwa pemimpin Indonesia harus memiliki integritas tinggi (akhlak mulia), khususnya dalam karakter amanah (kejujuran) yang solid. Bangsa ini dilanda penyakit kronis yang saya katakan sebagai sebuah penyakit yang hampir menjadi "karakter" bangsa. Yaitu korupsi yang merajajela dan bahkan orang jujur menjadi sebuah barang langka dan aneh.

Kelima, bahwa pemimpin Indonesia harus berkarakter pemberani dan tegas. Dunia kita sedang dilanda berbagai ketidakpastian, termasuk ancaman disintegrasi bangsa. Dunia global membuka mata setiap anak-anak bangsa dalam segala hal, dan terkadang kekurangan-kekurangan yang ada dapat dijadikan justifikasi wacana pemisahan diri dari negara kesatuan republik Indonesia.

Keenam, bahwa pemimpin Indonesia harus memiliki kecepatan dan ketepatan dalam setiap kebijakan yang diambil. Hal ini menjadi krusial di saat segala sesuatu dalam dunia global ini bergerak secara cepat. Peluang-peluang yang ada begitu terbuka dalam dunia global ini, dan mutlak ditangkap secara cepat dan tepat. Jika tidak, maka bangsa ini akan menjadi bangsa penonton dan pada akhirnya akan hanya mampu menyesal.

Ketujuh, bahwa pemimpin Indonesia haruslah seseorang yang sederhana (tidak komplikasi) dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Bersikap ribet (complicated) dalam upaya penyelesaian berbagai masalah bangsa hanya akan menjadi sederetan teori yang tak selesai. Untuk itu, diperlukan pemimpin yang sederhana tapi berwawasan "problem solving" dalam menyikapi berbagai isu bangsa saat ini.

Akhirnya saya juga ingin mengatakan bahwa saat ini bangsa kita masih berada dalam suasana pendewasaan dalam segala aspek kehidupannya, termasuk kehidupan berdemokrasi, maka nampaknya saat ini Indonesia masih memerlukan pemimpin yang berpengalaman dan memiliki kemampuan pemersatu.

Barangkali tegasnya bangsa ini masih memerlukan generasi pertama (kira-kira berumur 60-an ke atas) dengan pengalaman birokrasi plus yang hebat. Saya katakan plus karena dunia kita mengalami "interconnectedness" (keterkaitan) yang hebat. Artinya, mampu secara politik harus dibarengi kemampuan manejemen ekonomi yang tangguh.

Namun demikian, saya ingin mengatakan bahwa karena sekarang ini reformasi telah memasuki umur yang kelima belas. Artinya, reformasi Indonesia memasuki masa keremajaan awal. Insya Allah, lima tahun mendatang reformasi akan memasuki umur ke dua puluhnya. Maka dengan sendirinya setelah periode ini rasanya bangsa Indonesia akan melalui masa remaja dan memasuki fase kedewasaan.

Untuk itu, pemimpin periode tahun 2014 mendatang idealnya didampingi oleh seorang generasi muda yang visionary, cemerlang dan integrative. Hal ini sekaligus merupakan transfer kepemimpinan generasi kepada generasi muda (regenerasi) untuk mempersiapkan pemimpin masa depan bangsa yang tangguh dan kompetitif.

Siapa kira-kira ya? Ayo kita cari bersama! ***1***

*) Diaspora Indonesia New York, Amerika Serikat
    Imam Masjid Pusat Kegiatan Islam ("Islamic Centre") New York, AS

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © 2013

Komentar Pembaca