Jakarta (ANTARA News) - Abu dan pasir dari erupsi Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, yang tersembur dengan ketinggian mencapai 17 kilometer, lebih banyak terbawa angin ke arah barat dan barat laut sehingga berdampak hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho yang diterima di Jakarta, Jumat, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menganalisa mengapa hujan abu dan pasir erupsi Gunung Kelud masih terjadi di Jawa Tengah.

Ia mengatakan, berdasarkan analisis BMKG, abu dan pasir dari erupsi Gunung Kelud pada lapisan 1.500 meter terbawa angin ke arah timur laut. Sedangkan pada lapisan 5.000 meter terbawa ke arah barat laut, dan pada 9.000 meter ke arah barat.

Material abu dan pasir tersebut melayang-layang di atmosfer dan menyebar. Wilayah di bagian barat yang lebih banyak mengalami hujan abu dan pasir seperti di Pacitan, Ponorogo, Wonogiri, Bantul, Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, Purworejo, Kebumen, Solo, Boyolali, Salatiga, Temanggung.

Sedangkan di bagian timur, hujan abu menyebar hingga Malang, Surabaya, Banyuwangi, dan Ampenan (NTB).

Sementara itu, sejak pukul 08.00 WIB, cuaca di Kediri dan Blitar cerah, ujarnya. Sudah tidak terjadi hujan abu pasir dari Gunung Kelud yang meletus pada Kamis (13/2) pukul 22.50 WIB.

Menurut Sutopo, langit di dua wilayah tersebut sudah terlihat biru.

Namun di beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dilaporkan masih terjadi hujan abu dan pasir.

Sebelumnya Kepala PVMBG Muhamad Hendrasto mengatakan rekomendasi radius aman di 10 kilometer tetap diberlakukan dan ia berharap rekomendasi tersebut dapat dipatuhi masyarakat.


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014