Saya lihat banyak orang telantar di Pulo Gadung tidak ada pekerjaan, mereka umumnya yang berhenti bekerja dari tempat yang lama. Atas rasa kemanusian, mau dibawa ke mana pekerja-pekerja ini, makanya saya pekerjakan di rumah saya,"
Bogor (ANTARA News) - Brigjen Polisi (Pur) Mangisi Sitomorang (MS) selain membantah terjadi penganiayaan dan penyekapan terhadap pekerja, mengaku mempekerjakan 16 orang di rumah tangganya sebab mengasihani mereka yang telantar di jalanan.

Dalam keterangan yang disampaikannya kepada wartawan bersama kuasa hukum Victor Nadapdap, serta Mukhtar Pakpahan dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia yang juga kerabat dekatnya, di Kota Bogor, Sabtu, MS mengaku mempekerjakan 16 orang pekerja rumah tangga atas dasar kemanusiaan.

"Saya lihat banyak orang telantar di Pulo Gadung tidak ada pekerjaan, mereka umumnya yang berhenti bekerja dari tempat yang lama. Atas rasa kemanusian, mau dibawa ke mana pekerja-pekerja ini, makanya saya pekerjakan di rumah saya," ujarnya.

MS mengatakan, selama mempekerjakan mereka banyak problematika yang terjadi. Ada beberapa pekerja yang tidak cocok bekerja di rumahnya. Bahkan sebelum berita penyekapan dan penyiksaan terekspose sudah ada beberapa pekerja yang dipulangkan.

Terdapat 16 orang pekerja rumah tangga yang bekerja di rumah jenderal pensiunan itu, empat orang diantaranya laki-laki. Keseluruhan pekerja diperoleh dari penyalur di Pulo Gadung.

Menurut l MS, dari 16 orang itu, empat orang pekerja laki-laki sengaj direkrut untuk membantu usaha tambak lele yang mulai dikelolanya yang terletak di wilayah Curug Nangka, Kabupaten Bogor.

Sedangkan 12 pekerja lainnya adalah perempuan yang memiliki tugas membersihkan serta melakukan pekerjaan rumah di kediaman jenderal.

Dari 12 pekerja perempuan itu, lanjutnya, memang ada satu orang pekerja yang mengalami gangguan bicara atau bisu yang tidak diketahui namanya dan dua orang mengalami keterbelakangan mental yakni Rifki dan juga si bisu.

"Seperti si bisu ini pernah bekerja sebagai pengasuh anak di Jakarta, karena tidak bisa ngomong dia dipecat dan terlunta-lunta di Pulo Gadung. Begitu juga Rifki terlunta-lunta. Ya sudahlah atas dasar kemanusiaan kita tempatkan mereka di rumah," ujarnya.

Demikian juga dengan salah satu pekerja yang hamil dan melahirkan saat bekerja di rumah sang purnawirwan jenderal polisi, yakni Rahma dan Riris.

Menurut MS, Riris sudah hamil saat duluan sebelum bekerja di rumahnya. Begitu juga dengan Rahma yang gagal berangkat kerja ke Taiwan karena hamil.

"Riris ini melahirkan secara caesar dan biayanya Rp14 juta kita bantu," ujarnya.

Kondisi pekerja di rumah MS mencuat berawal dari laporan YL ke Polresta Bogor bersama keluarganya karena mengaku mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya selama bekerja di rumah istri purnawirawan jenderal MS, di Perumahan Duta Kencana, Jalan Danau Matana, Blok C5, Kelurahan Tegalega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

YL mengaku dirinya mendapatkan perlakuan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tidak digaji selama tiga bulan.

Korban melarikan diri dan sempat terlantar di jalan selama dua hari, kemudian ditemukan oleh warga dan akhirnya bertemu dengan keluarga yang segera melapor ke Polresta Bogor.

Pihak Polresta Bogor saat ini masih menyelidiki dugaan kekerasan tersebut dan meminta visum karena belum ditemukan bukti-bukti kekerasan pada tubuh korban.

"Secara kasat mata memang tak terlihat adanya luka, namun karena laporan KDRT, kami mintakan visum. Hasilnya belum keluar," kata Kapolresta Bogor AKBP Bahtiar Ujang Purnama.
(KR-LR/A013)

Pewarta: Laily Rahmawati
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014