Sabtu, 20 Desember 2014

Ukraina meminta bantuan Barat

| 5.602 Views
id krisis ukraina, semenanjung krimea, krimea, sanksi rusia, referendum krim, kongres as
Ukraina meminta bantuan Barat
Orang-orang bersenjata lengkap yang diyakini pasukan Rusia mengepung Krimea, Ukraina (Reuters)
Sevastopol/Kiev (ANTARA News) - Pemerintah Ukraina meminta bantuan Barat untuk menghentikan Rusia menganeksasi Krimea yang akan memformalkan integrasinya dengan Moskow dalam beberapa hari ini.

Perdana Menteri Ukraina yang sedang menggelar pertemuan di Gedung Putih dan PBB, berkata kepada parlemennya di Kiev bahwa dia ingin AS dan Inggris sebagai penjamin Pakta 1994 yang mengamanatkan Ukraina untuk menyerahkan arsenal nuklir peninggalan Uni Sovietnya, untuk melakukan baik intervensi diplomatik maupun militer guna menghentikan agresi Rusia.

Tapi, meskipun pesawat-pesawat mata NATO berpatroli di perbatasan Polandia dan Romania sedangkan Angkatan Laut AS bersiap latihan militer di Laut Hitam, Barat tidak ingin menciptakan krisis Timur-Barat terburuk sejak Perang Dingin dengan membuka konflik militer melawan Moscow.

Diplomasi terbatas pada perang kata-kata ketika para pejabat kementerian luar negeri AS dan Rusia berbicara melalui telepon.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, Moskow tidak memberi sedikit pun ruang untuk negosiasi, sedangkan Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan mengutuk bantuan keuangan AS ke rezim tidak sah di Kiev yang disebutnya ultranasionalis yang memiliki kaitan dengan Nazi.

Presiden Ukraina terguling Viktor Yanukovich yang muncul dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa dia masih penguasa sah Ukraina, sedangkan parlemen Kiev menyebut referendum Krimea untuk bergabung dengan Rusia sebagai tidak sah.

Di parlemen Ukraina, pejabat menteri pertahanan mengatakan 41.000 infantri telah dimobilisasi, namun Ukraina hanya bisa menggelarkan 6.000 pasukan siap tempur yang jauh lebih kecil dibandingkan 200.000 tentara Rusia yang bersiap di perbatasan timur negeri itu.

Perdana Menteri Ukraina menyebutkan bahwa angkatan udaranya kalah 100 banding 1 melawan Rusia.

Sementara itu presiden sementara, Oleksander Turchinov, mengingatkan bangsanya untuk tidak terpancing provokasi Rusia di tengah rencananya memobilisasi Garda Nasional. Sedangkan PM sementara Ukraina, Arseny Yatseniuk, meminta Barat membela kedaulatan Ukraina di bawah Pakta 1994.

"Apa arti dari agresi militer Federasi Rusia saat ini ke teritori Ukraina?" kata dia.  "Itu artinya sebuah negara yang sukarela memberikan senjata nuklirnya, menolak status nuklir dan mendapat jaminan dari negara-negara besar dunia telah dibiarkan tak terkawal dan sendirian menghadapi sebuah negara nuklir yang siap perang.

"Saya mengatakan ini kepada mitra-mitra Barat kami, jika kalian tidak memberikan jaminan yang sudah disepakati dalam Momorandum Budapest, maka jelaskanlah bagaimana kalian akan membujuk Iran atau Korea Utara untuk menyerahkan statusnya sebagai negara nuklir."

Parlemen Ukraina telah meluluskan sebuah resolusi yang diajukan Yatseniuk untuk menyeru AS dan Inggris guna "memenuhi tanggungjawabnya dan menempuh segala langkah diplomatik, politik, ekonomi dan militer yang mungkin dalam mengakhiri dengan segera agresi dan menjamin kemerdekaan, kedaulatan dan perbatasan Ukraina".

Namun Barat menanggapi hati-hati permohonan Ukraina ini mengingat Ukraina bukan anggota NATO sehingga tidak bisa otomatis meminta bantuan. Pakta 1994 hanya menyebutkan perlindungan militer diberikan jika Ukraina terancam serangan nuklir, demikian Reuters.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar Pembaca
Baca Juga