Senin, 28 Juli 2014

Fadli Zon kembali buat puisi, siapa disindir?

Sabtu, 29 Maret 2014 13:00 WIB | 11.387 Views
Fadli Zon kembali buat puisi, siapa disindir?
Fadli Zon (ANTARA/M Agung Rajasa)
Jakarta (ANTARA News) - Setelah membuat puisi berjudul "Air Mata Buaya", Wakil Ketua Umum Partai Gerindra kembali membuat sebuah puisi.

Kali ini puisi Fadli Zon yang disebarkan, Sabtu, berjudul "Sajak Seekor Ikan".

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membeli ikan merah kerempeng dari tetangganya.

Namun, ikan itu lincah dan menarik perhatian banyak orang.

Akhirnya ikan itu keluar dari akuarium dan terbawa ke laut lepas.

Selanjutnya ikan itu menjadi santapan penguasa samudra

Sebelumnya, puisi "Air Mata Buaya" dianggap menyindir pihak lain.

Puisi ini antara lain bercerita orang yang bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura.

Selain itu juga mereka yang bicara nasionalisme sambil jual aset negara.

Beberapa anggota PDI Perjuangan menanggapi puisi ini.

Ketika ditanya untuk siapakah "Sajak Seekor Ikan" ditujukan? Fadli hanya menjawab, "Hehehe".

"Sajak Seekor Ikan"
Seekor ikan di akuarium Kubeli dari tetangga sebelah
Warnanya merah Kerempeng dan lincah
Setiap hari berenang menari
Menyusuri taman air yang asri
Menggoda dari balik kaca
Menarik perhatian siapa saja
Seekor ikan di akuarium
Melompat ke sungai bergumul di air deras
Terbawa ke laut lepas
Di sana ia bertemu ikan hiu, paus dan gurita
Menjadi santapan ringan penguasa samudera
Fadli Zon, 29 Maret 2014.

"Airmata Buaya"
Kau bicara kejujuran sambil berdusta
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam
Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah
Kau bicara persatuan sambil memecah belah
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan
Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita
Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama
Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata
Air mata buaya

Fadli Zon, 26 Maret 2014

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Baca Juga