Ramallah (ANTARA News) - Amerika Serikat berencana menaja pertemuan antara perunding Israel dan Palestina di Jerusalem, Minggu, dalam upaya menyelamatkan pembicaraan perdamaian, yang macet, kata seorang pejabat senior Palestina, Sabtu (5/4).

Kepala perunding kedua pihak --Tzipi Livni dan Saeb Erekat-- mengadakan pertemuan pada Jumat dan dalam pertemuan tersebut memutuskan untuk bertemu pada Minggu di Jerusalem.

Mereka berupaya memperpanjang pembicaraan perdamaian --yang dijadwalkan berakhir pada penghujung April, kata pejabat itu, yang tak ingin disebutkan jatidirinya, kepada Xinhua.

Utusan perdamaian AS Marten Indyk menaja pertemuan antara kedua pihak tersebut, yang masih belum sepakat mengenai perpanjangan pembicaraan perdamaian mereka sampai akhir tahun ini dan mengenai pembebasan kelompok terakhir orang Palestina yang telah lama dipenjarakan oleh Israel.

"Pihak Palestina berkeras Israel mesti terikat komitmen pada pembebasan kelompok terakhir sebanyak 26 tahahan Palestina, yang mestinya dibebaskan pada 29 Maret, sebelum pembicaraan mengenai perpanjangan pembicaraan," kata pejabat itu, sebagaimana dikutip Xinhua.

Sementara itu, Israel berkeras Palestina mesti menghentikan permohonan bergabung dengan 15 kesepakatan internasional.

Israel pada Juli tahun lalu setuju untuk membebaskan 104 tahanan Palestina untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Palestina. Sejauh ini, 78 tahanan telah dibebaskan dalam tiga kelompok, dan kelompok terakhir 26 tahanan dijadwalkan dibebaskan pada Sabtu, 29 Maret.

Namun, pembebasan tersebut ditunda akibat keberatan kelompok "hawkish" sayap-kanan untuk membebaskan beberapa orang Arab Israel di dalam kelompok itu.

Sebagai balasan, Presiden Palestina Mahmoud Abbas memutuskan untuk bergabung dengan 15 kesepakatan dan konvensi internasional.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengunjungi Jerusalem pekan lalu, dalam upaya menyelamatkan pembicaraan tersebut dengan menawarkan untuk membebaskan mata-mata Israel Jonathan Pollard, yang sudah hampir 30 tahun mendekam di penjara AS karena dakwaan melakukan kegiatan mata-mata.

Pada Kamis (3/4), media Israel melaporkan pemimpin Palestina mengajukan daftar tuntutan kepada Israel bagi perpanjangan pembicaraan perdamaian, termasuk komitmen tertulis oleh Israel untuk mengakui negara masa depan Palestina sepanjang perbatasan 1967.

Daftar tersebut disampaikan pada Rabu malam (2/4), selama pertemuan darurat perundingan Israel-Palestina dan AS yang berusaha menyelamatkan pembicaraan perdamaian yang memburuk.

Daftar itu juga meliputi diakhirinya blokade atas Jalur Gaza, dan dihentikannya pembangunan permukiman di Jerusalem Timur. Selain itu, Pemerintah Otonomi Palestina meminta militer Israel menghentikan penangkapan dan pembunuhan di Daerah A, wilayah Tepi Barat Sungai Jordan yang berada di bawah kekuasaan Palestina.

Mereka juga menuntut pembebasan 1.200 tahanan Palestina, termasuk pemimpin politik Marwan Barghouti, Ahmed Saadat dan Fuad Shubkhi.

(C003)


Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014