Washington (ANTARA News) - Kasus ketiga penularan virus mematikan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) telah ditemukan di Amerika Serikat, kata Pusat bagi Pemantauan dan Pencegahan Penyakit negeri itu (CDC), Sabtu (17/5).

Pasien tersebut adalah pria Illionis yang telah mengadakan kontak erat dengan kasus pertama penularan virus MERS yang dikonfirmasi di negeri itu di Indiana dan "barangkali tertular virus itu dari pasien Indiana tersebut", kata CDC di dalam satu pernyataan.

Warga Illionis itu "tidak mencari atau memerlukan perawatan medis" dan "dilaporkan merasa sehat" pada saat ini, demikian laporan Xinhua, Minggu.

Sebagai bagian dari penyelidikan lanjutan penularan virus MERS dari kasus pertama, para pejabat kesehatan lokal telah memantau kesehatannya setiap hari sejak 3 Mei, kata CDC.

Warga Illionis tersebut, yang tak memiliki sejarah perjalanan baru-baru ini ke luar Amerika Serikat, katanya, bertemu dengan pasien Indiana itu dalam dua kesempatan tak lama sebelum warga Illionis tersebut diidentifikasi sebagai tertular virus MERS.

Pria Illionis tersebut diperiksa positif bagi virus MERS pada Jumat malam (16/5), tambah CDC.

Kasus pertama MERS di AS adalah seorang warga Amerika yang baru pulang dari perjalanan ke Arab Saudi dan dimasukkan ke satu rumah sakit Indiana pada 28 April. Ia dikonfirmasi telah tertular virus MERS pada 2 Mei, dan sejak itu telah diperkenankan pulang dari rumah sakit.

Kasus kedua penularan virus MERS di AS dikonfirmasi pada 11 Mei pada seorang lelaki yang berumur 44 tahun dan juga tiba di AS dari Arab Saudi. Pasien itu saat ini dirawat di rumah sakit di Florida dan berada dalam keadaan baik, kata CDC.

MERS adalah virus baru bagi manusia dan pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada 2012. Hingga 16 Mei, telah ada 572 kasus penularan virus MERS yang dikonfirmasi laboratorium di 15 negara dengan 173 kematian, kata CDC.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus MERS terserang penyakit pernafasan sangkat akut, yang disertai demam, batuk dan tersengal-sengal. Para pejabat tidak mengetahui dari mana virus itu berasal atau bagaimana secara pasti virus tersebut menyebar.

Belum ada vaksin atau obat khusus yang disarankan untuk melawan virus itu.

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2014