Semarang (ANTARA News) - Dampak pelemahan ekonomi Tiongkok tidak signifikan menimpa Jawa Tengah karena sejauh ini negara tersebut bukan tujuan utama ekspor, kata Divisi Assessment Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah V Budi Trisnanto

"Pangsa pasar ekspor ke Tiongkok hanya sekitar 8,3 persen dari total ekspor terutama untuk kayu olahan," katanya di Semarang, Selasa.

Berdasarkan data BI, tiga negara utama tujuan ekspor produk dari Indonesia, yaitu Amerika Serikat dengan pangsa pasar 26,18 persen, Eropa (19,37), dan Jepang (8,92).

Namun demikian, Indonesia masih bergantung pada impor dari Tiongkok, di antaranya bahan baku dan barang modal untuk sektor industri.

"Untuk bahan baku impor dari Tiongkok berkontribusi 44,63 persen yang didominasi oleh serat tekstil dan bahan kimia, sedangkan untuk barang modal mencapai 44,71 persen yang terdiri dari mesin produksi," katanya

Menurut data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, nilai ekspor untuk negara tujuan Tiongkok dari April ke Mei menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Jika pada April nilai ekspor ke Tiongkok mencapai 225,62 juta dolar AS, untuk bulan Mei lalu jumlah tersebut meningkat menjadi 300,05 juta dolar AS.

Menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng Jam Jam Zamachsyari, untuk komoditas yang diekspor masih sama, di antaranya tekstil, barang tekstil, kayu, barang dari katu, dan barang hasil pabrik.

Ia mengatakan nilai impor pada Mei menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan April.

Ia mengatakan impor dari Tiongkok ke Jateng pada Mei mencapai 897,33 juta dolar AS, sedangkan pada bulan sebelumnya 738,00 juta dolar AS.

"Jawa Tengah masih lebih tergantung pada impor dari Arab Saudi, yaitu mencapai 1706,50 juta dolar AS, sejauh ini negara tersebut merupakan negara penghasil impor terbesar ke Jateng," katanya.

Ia mengatakan untuk ekspor, masih lebih didominasi oleh pasar Amerika Serikat yang pada Mei lalu, nilainya mencapai 524,89 juta dolar.
(KR-AWA/M029)

Pewarta: Aris Wasita Widiastuti
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014