Brasilia (ANTARA News) - Brasil mengevakuasi staf diplomatiknya dari Libya, Rabu, di tengah meningkatnya pelanggaran hukum dan kerusuhan di negara itu.

Mengutip "memburuknya kondisi keamanan," kata kementerian luar negeri "Pemerintah telah memutuskan untuk memindahkan sementara staf kedutaan Brasil di Tripoli tersebut ke Tunisia," kata pernyataan resmi, namun menekankan bahwa itu tidak berarti kedutaan akan ditutup.

Amerika Serikat dan Kanada juga telah menutup kedutaan mereka di Tripoli, sementara beberapa negara termasuk Inggris, Prancis, Jerman dan Mesir menyarankan warga negara mereka selama akhir pekan untuk segera pergi dari negara itu, demikian laporan AFP.

Pertempuran antar-milisi yang bersaingan untuk mengendalikan bandara Tripoli dan antara Islamis dengan seorang mantan jenderal pendukungnya di Benghazi, tempat lahirnya revolusi tahun 2011 yang menggulingkan diktator Moamer Gaddafi, telah menewaskan sejumlah orang.

Para pemimpin penting Amerika Serikat dan Uni Eropa, Senin, menyerukan gencatan senjata di Libya dan PBB agar memainkan peran besar dalam membantu menghentikan aksi kekerasan dan kekacauan yang meningkat.

Imbauan itu datang setelah satu percakapan telepon antara Presiden AS Barack Obama, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Francois Hollande dan perdana menteri Ingris David Cameron dan perdana menteri Italia Matteo Renzi, kata satu pernyataan pemerintah Jerman.

"Lima kepala negara dan pemerintah itu mengecam aksi kekerasan terhadap para warga sipil, intimidasi pada wakil-wakil negara dan gangguan bagi proses politik," kata pernyataan tersebut.

Mereka menyeru PBB "memainkan peran penting dalam membantu proses politik itu" untuk memulihkan stabilitas di Libya.

Para pemimpin itu sepakat tentang perlunya "satu gencatan senjata segera antara milisi-milisi di Tripoli," tambahnya.

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014