Auckland (ANTARA News) - Sekjen PBB Ban Ki-moon, Rabu, mengatakan dunia mengutuk pemenggalan kepala wartawan Amerika Serikat Steven Sotloff oleh gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Kita semua marah atas laporan-laporan dari Irak tentang pembunuhan yang kejam para warga sipil oleh ISIS termasuk satu pemenggalan brutal kepala seorang wartawan AS lainnya, kemarin," katanya di Selandia Baru, setelah satu rekaman video yang menayangkan kematian Sotloff dirilis secara online.

Video tersebut dirilis setelah video mengerikan yang disiarkan ISIS yang menampilkan pemancungan wartawan AS James Foley.

"Saya mengutuk keras kejahatan seperti itu dan saya menolak keras bahwa seluruh masyarakat dapat diancam oleh kejahatan yang kejam karena kepercayaan yang mereka anut," kata Ban.

Sekjen PBB itu menyebut situasi di Irak, di mana ISIS yang kini berganti nama IS (Negara Islam) merebut wilayah di utara dan barat negara itu, sebagai "mengerikan" dan menyerukan para pemimpin agama agar "memelihara toleransi, saling menghormati dan tidak melakukan aksi kekerasan".

Dalam satu tayangan terakhir, Sotloff, 31 tahun, dengan tenang menghadap kamera dan mengatakan ia adalah korban keputusan Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk mendesak serangan-serangan udara di Irak tergadap gerilyawan ISIS.

Seorang gerilyawan yang mengenakan topeng dengan logat Inggris, mungkin orang yang sama dalam pembunuhan Foley pada video pertama, kemudian membunuh dia dengan sebilah pisau.

Sotloff, seorang wartawan perang kawakan yang sangat memahami sejarah dan budaya Timur Tengah, ditangkap setahun lalu ketika melintasi perbatasan dari Turki menuju Suriah.

Pada Selasa, Sekjen PBB menyebut IS melakukan teror di Suriah dan Irak, di mana para petempurnya melakukan pembunuhan massal, pemenggalan kepala, pelemparan batu sampai mati sebagai tindakan yang "sama sekali tidak dapat diterima".

Dewan Hak Asasi Manusia PBB pekan ini dengan suara bulat setuju mengirim satu misi ke Irak untuk menyelidiki aksi kekejaman di "kekhalifahan" Islam yang diumumkannya sendiri di tengah-tengah laporan pembersihan etnik di daerah-daerah masyarakat minoritas Kristen dan Kurdi Yazidi.

Amerika Serikat melakukan serangan-serangan udara di Irak dalam usaha menghambat gerak ISIS dan melindungi etnik minoritas, kendati sejauh ini mengesampingkan bekerja sama dengan pemerintah Damaskus untuk aksi yang sama di Suriah.

Jerman setuju mengirim senjata-senjata ke warga Kurdi Irak sementara Australia akan membantu mengangkut senjata-senjata ke para petempur Kurdi dan melakukan pengiriman lewat udara bantuan kemanusiaan ke masyarakat-masyarakat yang terkepung.

Usaha-usaha seperti pengiriman senjata kepada warga Kurdi tidak secara langsung didukung oleh PBB, tetapi Ban kemudian menyetujuinya pada Selasa dengan mengatakan kegiatan-kegiatan ISIS mencemaskan masyarakat internasional.

(Uu.H-RN)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014