Sabtu, 25 Maret 2017

Empat pelaut terkatung-katung di Taiwan selatan

| 6.284 Views
id pelaut indonesia, nasib pelaut indonesia, pelaut indonesia di taiwan, indonesia-taiwan
Empat pelaut terkatung-katung di Taiwan selatan
ilustrasi Pihak keluarga yang disandera bersama Kesatuan Pelaut Indonesia berunjuk rasa menuntut tanggung jawab dari pemerintah untuk mempercepat pembebasan ABK Sinar Kudus. (ANTARA/Fanny Octavianus)
Pingtung (ANTARA News) - Nasib empat orang pelaut asal Indonesia terkatung-katung di Taiwan bagian selatan akibat tidak mendapatkan pekerjaan sebagaimana dijanjikan pihak agen penyalur tenaga kerja.

"Kami ingin meninggalkan Taiwan, namun tidak ada uang untuk pulang," kata Suyono (36) mewakili ketiga temannya yang berada di rumah penampungan nelayan asal Indonesia di Pelabuhan Donggang, Pintung County, Taiwan, Rabu.

Pria asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu tidak menyangka jika keberadaannya di Taiwan bernasib sial. Padahal, selama ini dia bekerja sebagai juru mesin kapal di Bali.

"Saya meninggalkan Bali karena tergiur oleh rayuan teman bahwa kerja di Taiwan gajinya tinggi," ujar Suyono yang sebelumnya tinggal bersama keluarganya di Desa Jabaran, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jatim, itu.

Ia berangkat ke Taiwan pada bulan Juli 2014 melalui perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia PT Jaya Makmur, Jakarta.

Suyono dan ketiga temannya dijemput oleh seorang agen sesampainya di Bandar Udara Internasional Touyuan, Taiwan. "Paspor kami diminta oleh agen tersebut. Lalu kami hanya diberi salinannya," ujarnya.

Namun, sejak Agustus hingga pertengahan September 2014, dia dan ketiga temannya tidak mendapatkan pekerjaan sebagaimana dijanjikan oleh agen tersebut.

Lama menganggur, bekal yang dibawa dari Indonesia pun habis, sehingga mereka melapor ke kantor imigrasi Taiwan di Taipei. Dalam surat lapor diri tertanggal 21 September 2014 itu, pihak imigrasi memberikan tenggang waktu selama 30 hari kepada keempat pelaut tersebut untuk bekerja demi mendapatkan uang.

Setelah sebulan, pihak imigrasi akan memberikan surat keterangan pengganti paspor agar keempat pelaut itu bisa meninggalkan Taiwan.

Keempatnya kemudian menuju Donggang, salah satu kawasan perikanan terbesar di Taiwan bagian selatan, untuk menyambung hidupnya.

Di kawasan perikanan yang juga terdapat ratusan pelaut asal Indonesia itu, mereka bekerja serabutan, seperti membongkar muatan kapal ikan.

"Kalau ada pekerjaan sehari paling-paling kami cuma dapat 500 NT (setara Rp200 ribu). Tapi tidak setiap hari ada pekerjaan untuk kami," ujarnya.

Uang tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Taiwan, selama tidak mendapatkan bantuan dari para nelayan yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia (Fospi) di Donggang.

"Oleh sebab itu, kami minta tolong perwakilan pemerintah Indonesia di Taiwan bisa membantu kepulangan teman-teman kami karena mereka tidak punya ongkos pulang dan terkendala paspor," tutur Dian dari Fospi Pingtung.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Devriel Sogia, hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi.

Beberapa kali telepon selulernya dihubungi, ternyata tidak aktif.

(M038/C004)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar Pembaca
Baca Juga