Moskow (ANTARA News) - Presiden Vladimir Putin menuding Presiden Amerika Serikat Barack Obama menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Rusia dan memperingatkan adanya "upaya untuk memeras" Moskow.

Menjelang kunjungannya ke calon anggota Uni Eropa, Serbia, Kamis, dan pertemuan dengan pemimpin Uni Eropa pada Jumat, Putin tanpa basa-basi meminta Washington untuk mempertimbangkan kepentingan Moskow.

Orang kuat Rusia itu menyinggung pidato Obama di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu, ketika dia memasukkan "agresi Rusia" di timur Ukraina dalam daftar ancaman global bersama dengan kelompok Negara Islam dan wabah Ebola di Afrika barat.

"Bersama dengan segala pembatasan terhadap seluruh sektor perekonomian kami, sulit untuk tidak mengatakan pendekatan tersebut sebagai sikap permusuhan," kata Putin kepada harian Serbia, Politika.

"Kami berharap mitra kami akan memahami kecerobohan upaya memeras Rusia, (dan) ingat apa akibat perselisihan di antara negara nuklir besar terhadap stabilitas strategis," kata Putin dalam komentarnya yang dirilis oleh Kremlin pada Rabu malam.

Putin juga menuduh Washington mencampuri urusan dalam negeri negaranya, mendakwa Amerika Serikat telah memprovokasi krisis di Ukraina dan kemudin balik menuduh Rusia.

"Apa yang terjadi sejak awal tahun ini bahkan lebih melemahkan semangat," kata Putin.

"Washington secara aktif mendukung protes Maidan dan mulai menyalahkan Rusia sebagai provokator krisis saat anak didiknya di Kiev dengan nasionalisme fanatik yang mengubah sebagian Ukraina menentangnya dan menjerumuskan negara tersebut menuju perang sipil."

Putin menekankan bahwa Moskow siap memperbaiki hubungan namun hanya jika kepentingannya benar-benar diperhatikan.

"Kami siap membangun dialog konstruktif berdasar prinsip-prinsip kesetaraan dan benar-benar mempertimbangkan kepentingan masing-masing," katanya seperti dikutip kantor berita AFP.

Rusia berselisih dengan Barat setelah pencaplokan semenanjung Krimea dari Ukraina pada Maret dan dukungannya terhadap kelompok separatis di negara bekas Uni Soviet itu.

Kiev dan Barat menuduh Kremlin mengirimkan pasukan ke Ukraina untuk mendukung perjuangan kelompok separatis melawan otoritas Kiev. Moskow membantah klaim itu.

Pendahulu Putin di Kremlin, Dmitry Medvedev, mempelopori perbaikan hubungan dengan Washington namun hubungan itu dengan cepat kembali memburuk setelah Putin berkuasa kembali untuk ketiga kalinya pada 2012. (Uu.S022)

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2014