Jakarta (ANTARA News) - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan laju inflasi pada akhir tahun 2014 tidak akan mencapai angka delapan persen, sesuai perkiraan semula.

"Saya tidak yakin lebih tinggi dari delapan persen, kemungkinan besar di bawah delapan persen," katanya di Jakarta, Senin.

Sasmito mengatakan tingkat inflasi setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masih bisa di bawah delapan persen, karena pemerintah menyesuaikan harga premium dan solar bersubsidi pada waktu yang tepat.

Menurut dia, dengan melakukan penyesuaian harga pada pertengahan November, maka dampak terhadap inflasi bisa ditanggung November dan Desember, apalagi November merupakan bulan di mana terjadi inflasi rendah.

Hal ini berbeda ketika pemerintah sebelumnya menyesuaikan harga BBM bersubsidi pada minggu ketiga Juni 2013, padahal ada tahun ajaran baru dan Lebaran, sehingga dampaknya terjadi inflasi tinggi pada Juli hingga mencapai 3,2 persen.

"Waktu itu dinaikkan pada 22 Juni, itu minggu keempat, sekarang kenaikannya hampir di pertengahan bulan, jadi dampak kenaikannya tersebar bagi dua, kira-kira separuh November, separuh Desember," tutur Sasmito.

Untuk Desember, Sasmito mengatakan inflasi masih bisa terkendali asalkan pemerintah mengendalikan harga bahan kebutuhan pokok yang mulai merangkak naik dalam dua bulan terakhir, seperti cabai merah dan beras.

"Mudah-mudahan tidak di atas dua persen. Tapi, masa pemerintah tidak melakukan sesuatu, karena saya kira cabai harus dikendalikan, ini kan sudah dua bulan berturut-turut harga cabai naik. Kalau itu bisa dikendalikan akan mengurangi tekanan," ujarnya.

Selain itu, pemerintah harus mewaspadai harga tarif angkutan dalam kota maupun antarkota yang terdampak langsung dari kenaikan harga BBM bersubsidi, meskipun diperkirakan komoditas itu sudah tidak signifikan dalam menyumbang inflasi Desember.

"Kendalikan tarif angkutan, karena itu yang paling pokok. Namun, tarif angkutan sudah naik di November, jadi kalaupun naik tidak akan setajam sebelumnya karena sebagian sudah naik di November," ujar Sasmito.

BPS mencatat laju inflasi pada November 2014 sebesar 1,5 persen, atau lebih tinggi dari November tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian, inflasi tahun kalender telah mencapai 5,75 persen dan inflasi secara tahunan (yoy) sebesar 6,23 persen.

Pemerintah memperkirakan laju inflasi pada akhir tahun 7,3 persen-7,5 persen dengan adanya kenaikan harga BBM bersubsidi. Sedangkan, Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada akhir tahun 7,7 persen-8,1 persen, dengan kecenderungan pada batas bawah.

Pewarta: Satyagraha
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2014