Sydney (ANTARA News) - Polisi Australia akhirnya menyerbu masuk Kafe Lindt di jantung kota Sydney di mana sejumlah orang disandera oleh seorang pria bersenjata yang diketahui berkebangsaan Iran dan disebut PM Tony Abbott sebagai mengalami gangguan mental.

Pihak berwenang memang tidak mengungkapkan siapa pelaku penyanderaan, namun sumber kepolisian menyebut nama keturunan Iran, Man Haron Monis.

Monis pernah dinyatakan bersalah pada 2012 karena mengirimkan surat bernada kebencian kepada para keluarga delapan tentara Australia yang tewas di Afghanistan, sebagai unjuk protes atas keterlibatan Australia di sana.

Dia juga pernah disangka melakuan lebih dari 40 kasus penyerangan seksual.

"Dia punya catatan panjang kejahatan dengan kekerasan, kegilaan disertai ekstremisme dan ketidakstabilan mental," kata Perdana Menteri Australia Tony Abbott kepada wartawan di  Canberra.  Kala itu, Sang PM tidak menyebutkan identitas "dia" tersebut.

Menteri Utama New South Wales Mike Baird menolak berkomentar ketika ditanya wartawan soal pantaskan Monis dibebaskan dengan jaminan ketika dia menjadi tertuduh dalam pembunuhan mantan istrinya.

Seorang pejabat keamanan Amerika Serikat mengatakan bahwa pemerintah AS telah memberi masukan kepada Australia bahwa pada tahap ini tidak ada kaitan antara Monis dengan organisasi-organisasi teroris.

Namun Monis sudah dikenal lama oleh polisi.  Polisi juga menyebutkan akan jauh lebih sulit mengatasi serangan teror yang dilalukan dan dilandasi oleh pertimbangan pribadi pelaku teror.

"Kita tengah memasuki fase baru terorisme yang jauh lebih berbahaya dan lebih sulit dikalahkan dibandingkan dengan Alqaeda sekalipun," kata profesor hukum dari Universitas Cornell, AS, Jens David Ohlin.

Australia yang menjadi sekutu terpercaya AS dalam perang melawan ISIS, sudah memperingkatkan bakal adanya serangan dari kaum militan di dalam negeri yang kembali dari berperang di Timur Tengah atau dari para pendukungnya di dalam negeri.

Tayangan-tayangan televisi terbaru memperlihatkan para sandera membentangkan sebuah bendera hitam putih yang memperlihatkan kalimat syahadat.  Menurut Reuters, bendera ini populer di kalangan kelompok militan Sunni seperti ISIS dan Alqaeda.

Insiden ini memaksa evakuasi di gedung-gedung yang berdekatan dengan kafe dan mengguncang seluruh negeri di mana banyak orang beralih dari perhatiannya selama ini ke liburan Natal.

September lalu, polisi antiterorisme mengaku telah menggagalkan serangan pemenggalan acak di depan umum dan beberapa hari kemudian seorang remaja di Melbourne ditembak mati setelah menyerang dua polisi antiterorisme dengan pisau.

Lokasi penyanderaan kafe itu berada di Martin Place, yang adalah kawasan pedestrian terkenal bagi karyawan yang rehat untuk makan siang. Lokasi ini juga menjadi target tempat pemenggalan acak yang berhasil digagalkan polisi.

Para pemimpin muslim Australia menyerukan masyarakat untuk tenang, sendangkan Majelis Ulama Australia (Australian National Imams Council) mengutuk  dengan keras aksi kriminal ini, selaras dengan pernyataan serupa dari Imam Besar Australia.

Sebuah gerakan di media sosial mengampanyekan solidaritas dengan kaum muslim Australia yang juga memperoleh dukungan luas, demikian Reuters.


Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2014