Beirut (ANTARA News) - Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah mengancam akan membalas serangan berulang-ulang Israel terhadap Suriah. Nasrallah mengatakan peluru-peluru kendalinya dapat menghantam negara Yahudi itu.

Nasrallah mengemukakan hal tersebut kepada stasiun televisi Al-Mayadeen. Hizbullah, lanjutnya, sejak tahun 2006 memiliki rudal Fateh-110 buatan Iran yang dapat menghantam seluruh Israel.

Nasrallah telah mengirim ribuan petempur ke Suriah untuk membantu mempertahankan pemerintah Suriah.

"Pemboman berulang-ulang yang menghantam target-target di Suriah adalah satu pelanggaran besar, dan kami menganggap bahwa setiap serangan terhadap Suriah adalah serangan terhadap seluruh poros perlawanan, tidak hanya terhadap Suriah," katanya kepada televisi berita Arab yang bermarkas di Beirut.

"Poros itu mampu menanggapinya. Ini dapat terjadi setiap saat."

Menjawab pertanyaan tentang persenjataan Hisbullah, Nasrallah mengatakan kelompok itu memiliki "semua senjata yang anda dapat bayangkan, dan dalam jumlah yang besar".

Ia menambahkan: "Kami sekarang lebih kuat ketimbang sebelumnya sebagai satu gerakan perlawanan."

Narallah mengungkapkan bahwa Hizbullah memiliki rudal-rudal Fateh-110, yang dapat menjangkau minimum 200km , yang dapat menghantam seluruh Israel.

Ditanya oleh pewawancara tentang tipe rudal ini, Nasrallah mengatakan: "Kami memiliki jenis rudal ini sejak tahun 2006" -- ketika Israel dan Hizbullah terlibat perang.

Angkatan udara Israel melancarkan beberapa serangan terhadap sasaran-sasaran di Suriah, termasuk depot-depot penimmpanan senjata-senjata milik Hizbullah, sejak konflik di sana dimulai hampir empat tahun lalu.

Serangan paling baru terjadi Desember, ketika pesawat-pesawat tempur Israel menghantam gudang-gudang senjata dekat Damaskus, kata kelompok pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR).

Israel tidak pernah mengonfirmasikan bahwa pihaknya melancarkan serangan-serangan itu, tetapi

Perang Hizbullah dalam musim panas tahun 2006 melawan Israel menewaskan sekitar 1.200 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, dan 160 warga Israel sebagian beesara tentara.


(Uu.SYS/C/H-RN/A/B002)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2015