Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore, bergerak melemah sebesar 39 poin menjadi Rp12.587 dibandingkan posisi sebelumnya Rp12.548 per dolar AS.

"Aset safe haven seperti mata uang dolar AS dan logam mulia atau emas menjadi tujuan aliran dana setelah Bank Sentral Swiss atau Swiss National Bank (SNB) menurunkan suku bunga acuan menjadi negatif," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kebijakan itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, sehingga sebagian pelaku pasar mengeluarkan investasinya dari instrumen yang beresiko dan mencari aset-aset yang dianggap "safe haven" seperti dolar AS.

Namun di sisi lain, lanjut dia, minat investor terhadap obligasi global Indonesia menjadi sentimen positif sehingga tekanan mata uang rupiah terhadap dolar AS tidak lebih dalam.

"Aliran dana masuk menunjukkan minat asing untuk aset Indonesia masih cukup kuat, sehingga dapat menjaga rupiah tetap stabil," katanya.

Selian itu, ia menambahkan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga di level 7,75 persen masih dinilai positif pasar. Langkah bank sentral yang juga akan melebarkan sumber pendanaan bagi bank akan menopang pertumbuhan ekonomi.

Presiden PT Astronacci International Gema Goeyardi menambahkan bahwa dengan masih masuknya dana asing itu membuka peluang mata uang rupiah akan kembali menguat hingga Rp12.250 per dolar AS.

"Idealnya, rupiah akan segera memasuki tren bullish," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat (16/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp12.593 dibandingkan hari sebelumnya, Kamis (15/1) pada posisi Rp12.617 per dolar AS.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2015