Zurich (ANTARA News) - Persatuan pesepak bola seluruh dunia FIFPro mengatakan akan datang saatnya untuk mengambil langkah hukum untuk memastikan agar para pemain yang tidak dibayar tepat waktu bebas mencari klub lain.

FIFPro mengatakan pada Jumat bahwa negosiasi-negosiasi untuk mereformasi landasan sistem transfer terhenti pada pekan lalu, setelah sejumlah perwakilan dari klub-klub dan liga Eropa menolak tuntutan untuk melindungi para pemain yang tidak dibayar tepat waktu atau mengalami pemutusan kontrak secara sepihak.

"FIFPro menerima dukungan mutlak dari para anggota di Eropa untuk mengejar semua tindakan hukum yang diperlukan dalam upaya untuk merestorasi hak-hak dasar para pemain yang pada dasarnya terhambat sistem transfer pemain yang cacat," demikian pernyataan FIFPro.

"Hak dasar para pemain untuk dibayar mengacu pada pasal-pasal yang terdapat di kontrak mereka bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan," tambah Bobby Barnes, kepala divisi Eropa FIFPro, menyusul pertemuan luar biasa di Athena.

"Kami memasuki negosiasi-negosiasi ini dengan keyakinan yang baik dan selalu tetap berkomitmen untuk menemukan solusi yang dapat dinegosiasikan, namun merupakan suatu hal yang tidak beruntung dengan tidak adanya timbal-balik."

"Posisi yang diajukan oleh para pemberi kerja begitu tidak seimbang, serta dapat dipertimbangkan sebagai antagonistis."

"Pertemuan ini menyoroti kesabaran kami untuk menemukan solusi-solusi telah mencapai batas dan anggota-anggota Eropa bersatu dalam keyakinan mereka bahwa tindakan yang lebih keras kelihatannya tak terelakkan lagi."

Negosiasi-negosiasi dibuka pada Maret tahun lalu namun FIFPro mengatakan bahwa Asosiasi Klub-klub Eropa (ECA) dan Liga Sepak Bola Profesional Eropa (EPFL) gagal menerima empat proposal kunci untuk memastikan stabilitas bersama.

Hal itu mencakup proposal untuk mengizinkan seorang pemain untuk memutus kontraknya dalam waktu sepuluh hari jika ia tidak dibayar selama lebih dari 30 hari; dan memberikan kompensasi keuangan bagi sang pemain jika kontraknya diputus tanpa sebab.

Dalam kasus-kasus itu, para pemain semestinya diizinkan untuk bergabung dengan klub lain tanpa larangan dari bursa transfer apapun, kata FIFPro.

Juru bicara ECA mengatakan mereka telah mencatat pernyataan FIFPro dan akan mendiskusikannya dalam pertemuan dewan pada Senin.

Saat ditanyai apakah FIFPro akan membawa kasus mereka ke pengadilan domestik, Pengadilan Eropa, atau Komisi Eropa, juru bicara mengatakan, "Semua arena terbuka untuk kami. Tidak ada yang dicoret."

"Apa yang klub-klub dan liga-liga usulkan akan menciptakan ketidak seimbangan yang lebih hebat dari yang sudah ada antara para pemain dan para pemberi kerja mereka," tambah sekretaris jenderal FIFPro Theo van Seggelen.

"Itu merupakan tindakan tidak bertanggung jawab dari ECA dan EPFL yang berusaha untuk memanipulasi situasi yang menguntungkan mereka secara ekstrem." Demikian laporan Reuters.

(Uu.H-RF/A016)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2015