Amman (ANTARA News) - Yordania menghukum mati dua orang teroris asal Irak beberapa jam setelah kelompok ISIS (Daulah Islam) menyiarkan video pembakaran hidup-hidup seorang pilot asal Yordania, demikian sejumlah sumber dan televisi setempat memberitakan.

Sebelumnya ISIS menuntut agar salah satu terhukum mati, yaitu perempuan asal Irak bernama Sajida ar-Rishawi, untuk dilepaskan dan ditukar dengan seorang tawanan Jepang yang kemudian juga tewas.

Selain ar-Rishawi, pemerintah Yordania juga menggantung seorang tahanan teroris bernama Ziyad Karboli sebagai respon atas kematian pilot Muath al-Kasaesbeh. Anggota Al Qaeda di Irak itu ditahan karena terbukti membunuh seorang warga Yordania pada 2008 lalu.

Sementara itu Ar-Rishawi adalah perempuan yang dihukum mati karena perannya dalam serangan bom bunuh diri pada 2005 yang menewaskan 60 orang.

ISIS sempat meminta pertukaran tawanan antara ar-Rishawi dengan warga Jepang Kenji Goto. Namun yang terjadi kemudian Goto, seorang wartawan senior, justru dieksekusi oleh ISIS dan videonya disebar pada Sabtu lalu.

Jordania sendiri meminta agar pertukaran ar-Rishawi--yang mempunyai hubungan dekat dengan Abu Musab az-Zarqawi yang dihormati oleh ISIS--juga melibatkan pilot al-Kasaesbeh selain dengan Goto.

Pemerintah Jordania pada Selasa kemudian menyatakan sang pilot telah tewas sejak satu bulan yang lalu untuk mengalihkan kritik dari warga yang beranggapan bahwa pemerintah seharusnya bisa bertindak lebih baik untuk menyelamatkan al-Kasaesbeh.

Jordania, yang juga turut ambil bagian dalam perang udara melawan ISIS bersama Amerika Serikat, menyatakan akan merespon pembunuhan terhadap pilot al-Kasaesbeh dengan cara yang "kuat dan menentukan."

Nasib al-Kasaesbeh telah menjadi perbincangan di kalangan warga Yordania selama beberapa pekan terakhir. Beberapa di antara mereka bahkan menyalahkan Raja Abdullah karena turut bergabung dengan Amerika Serikat dalam perang yang hanya mengungtungkan negara-negara Barat.

Sejumlah politisi dan anggota legislatif juga mendesak pemerintah untuk mundur dari koalisi internasional. Namun pihak pemerintah bersikeras bahwa kematian al-Kasaesbeh tidak akan memperlemah komitmen melawan kelompok garis keras.

Raja Abdullah sendiri sempat memperpendek kunjungan ke Amerika Serikat setelah mendengar kematian al-Kasaesbeh. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi, dia mengatakan bahwa pembunuhan terhadap sang pilot adalah tindakan "teror pengecut" yang sama sekali tidak punya hubungan dengan Islam.

Pilot Yordania itu merupakan orang pertama yang berhasil ditangkap oleh ISIS.
(G005)

Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2015