Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi bergerak menguat sebesar 63 poin menjadi Rp12.734 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.797 per dolar AS.

"Defisit transaksi berjalan triwulan IV 2014 yang membaik membuat rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS. Membaiknya defisit itu juga bersamaan dengan melemahnya tren penguatan dolar AS di pasar global sehingga rupiah mampu untuk menguat," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Senin.

Dalam data Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2014 mencatat surplus sebesar 2,4 miliar dolar AS. Surplus NPI itu ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar 7,8 miliar dolar AS yang melampaui defisit transaksi berjalan sebesar 6,2 miliar dolar AS (2,81 persen PDB).

Ia menambahkan bahwa fokus terhadap data ekonomi domestik akan berlanjut, data neraca perdagangan Januari 2015 hingga Bank Indonesia yang akan mengumumkan tingkat suku bunga (BI rate) akan dicermati pasar.

"Data neraca perdagangan diperkirakan masih akan surplus walaupun berpeluang lebih rendah dibandingkan surplus Desember. Hari ini rupiah berpeluang melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS," katanya.

Sementara itu, Analis pasar uang PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa aksi ambil untung pelaku pasar uang terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor nilai tukar rupiah kembali mengalami penguatan.

Ia menambahkan penguatan mata uang rupiah juga dipicu adanya ekspektasi dari kalangan pelaku pasar uang bahwa Bank Indonesia akan memangkas tingkat BI rate. Sedianya, Rapat Dewan Gubernur BI (RDG BI) akan dilakukan pada pertegahan pekan ini, BI rate memiliki peluang turun menyusul proyeksi inflasi yang rendah pada tahun ini.

"Turunnya BI rate dapat mendorong konsumsi masyarakat meningkat yang pada gilirannya akan membantu pertumbuhan ekonomi domestik," katanya.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2015