Jakarta (ANTARA News) - Bea masuk impor bahan baku industri petrokimia di luar ASEAN atau Most Favoured Nations (MFN) sebesar 10 persen untuk memacu datangnya investasi industri petrokimia hulu di dalam negeri.

"Industri baru harus bersaing dengan Timur Tengah, tanpa bea masuk pasti Indonesia kalah, mereka sangat murah sedangkan kita mahal," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso di Jakarta, Kamis.

Suhat mengatakan, kebutuhan bahan baku industri hilir petrokimia sebetulnya dapat dipenuhi dari negara ASEAN, yang jika diimpor ke Indonesia bea masuknya nol rupiah.

Suhat menambahkan, kebanyakan bahan baku memang diimpor dari negara ASEAN, namun ada juga yang masih diimpor dari Timur Tengah dengan fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP).

"Jadi tidak usah beli dari MFN dan tidak usah bayar 10 persen, beli saja dari ASEAN. Kalau yang tidak ada atau kurang, baru minta BMDTP untuk produksi mereka. Jadi, sebetulnya tidak usah mengutak-utik bea masuk, karena masih ada sumber lain," ujar Suhat.

Menurutnya, total impor bahan baku petrokimia adalah 47 ribu ton selama setahun, sedangkan yang mendapat fasilitas BMDTP sebesar 1,4 juta ton, di mana BMDTP diberikan kepada produk yang belum diproduksi di Indonesia maupun ASEAN.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015