Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore bergerak melanjutkan pelemahan sebesar 51 poin ke level Rp13.076 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.025 per dolar AS.

"Rupiah kembali bergerak melemah, namun depresiasi mata uang domestik itu bukan disebabkan faktor ekonomi Indonesia, sehingga dalam jangka menengah-panjang masih berpotensi terapresiasi," ujar Pengamat Pasar Uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, tren pelemahan rupiah saat ini bersifat jangka pendek akibat sentimen global terutama terkait ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed fund rate) yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Data-data ekonomi AS yang dirilis seperti tenaga kerja diluar sektor pertanian sertra menurunnya angka pengangguran memicu ekspektasi kenaikan Fed fund rate di pasar keuangan kembali menguat," katanya.

Setelah sentimen the Fed pudar, lanjut dia, investor akan kembali ke pasar berisiko karena imbal hasil yang ditawarkan masih cukup atraktif.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston menambahkan bahwa optimisme pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS cukup kuat menyusul pernyataan salah satu pejabat Bank Sentral AS yang mendukung kenaikan suku bunga.

"Bank Sentral AS akan mengadakan rapat moneter bulan Maret pada pekan depan. Di tengah penantian hasil rapat, pelaku pasar cenderung melepas aset mata uang berisiko, salah satunya rupiah," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (10/3) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp13.059 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (9/3) di posisi Rp13.047 per dolar AS.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2015