... dibentuk pada musim panas 2014 dan terdiri atas sebanyak 800 perempuan petempur, relawan yang belum menikah dan berusia antara 20 dan 24 tahun...
Damaskus, Suriah (ANTARA News) - Perempuan Suriah bergabung di dalam ketentaraan di medan tempur, saat mereka mengendarai tank, menembakkan roket anti-tank dan menggunakan senapan penembak jitu untuk membidik musuh seperti layaknya kaum lelaki.

Mereka dikenal dengan nama Batalion Komando untuk Perempuan, bagian dari Pengawal Republik Suriah di Angkatan Darat Suriah.

Unit mereka dibentuk pada musim panas 2014 dan terdiri atas sebanyak 800 perempuan petempur, relawan yang belum menikah dan berusia antara 20 dan 24 tahun. Tugas mereka ialah bekerja bersama Angkatan Darat Suriah dalam perang melawan gerilyawan.

Mereka memulai pelatihan pada musim panas 2013, sebelum pembentukan batalion mereka. Dan komandan militer mengatakan banyak perempuan telah memperlihatkan keinginan untuk mendaftarkan diri di Angkatan Darat Suriah untuk mempertahankan negara mereka, yang krisisnya telah memasuki tahun kelima tanpa ada tanda penyelesaian.

Saat fajar setiap hari, mereka naik bus berwarna hijau dari pangkalan mereka di bagian barat-laut Damaskus, dan bergerak ke arah medan tempur, terutama di pinggiran timur Ibu Kota Suriah. Di sana mereka membombardir, menembak dan mengawasi tempat yang dikuasai gerilyawan; Jobar dan Zamalka.

Mereka mengambil posisi di gedung yang rusak sebagian dan menghadap ke daerah yang dikuasai gerilyawan di Damaskus Timur.

Sambil membidikan peluncur anti-tank yang dipegangnya ke arah gerilyawan di garis demarkasi di Ghouta Timur, Zainab (19) mengatakan kepada Xinhua ia akan terus bertempur sampai menang.

"Karir saya sebagai prajurit tidak mempengaruhi kehidupan pribadi saya. Saya menjalani hidup yang normal dan seimbang antara pekerjaan saya dan rumah. Kami berdampingan dengan satuan militer Suriah sampai kami meraih kemenangan," kata dia. 

"Tujuan kami ialah kemenangan, bukan yang lain," kata Zainab, sambil menarik pelatuk peluncurnya, sehingga mengirim roket tepat ke posisi gerilyawan di Jobar.

Asap memenuhi ruangan itu dan suara ledakan kencang menggetarkan gedung tersebut, tapi Zainab tetap berdiri di tengah asap di belakang peluncurnya. Ia melihat dari satu lubang di depatnya untuk melihat di mana roket itu jatuh.

Zainab dan teman-temannya menghabiskan 13 jam sehari di belakang senjata mereka. Gaya hidup militer mereka identik dengan gaya hidup tentara pria.

Sepanjang siang hari, satuan komando tersebut makan kentang rebus dan telur saat sarapan dan makan siang dan mereka membasahi tenggorokan mereka dari waktu ke waktu dengan secangkir Matteh hangat, minuman herbal terkenal di Suriah.

Semua perempuan muda itu terus brebicara mengenai betapa mereka tidak takut dan bagaimana keluarga mereka mendorong mereka. Mereka mengatakan alasan utama mereka bergabung dengan militer ialah untuk melindungi negara mereka, bukan hanya balas dendam.

Bushra (22) mengirim pesan kepada perempuan yang ia tahu mampu berperang agar bergabung dengan batalionnya. "Saya mengirim pesan kepada setiap perempuan yang mampu bertempur dan memiliki daya tahan untuk memerangi terorisme. Kami akan terus bertempur dan kami takkan pernah menyerah."

Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2015