Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore bergerak melemah sebesar 83 poin menjadi 13.288 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya 13.205 per dolar AS.

"Kombinasi sentimen negatif dari eksternal dan domestik mendorong mata uang rupiah terdepresiasi cukup dalam," ujar pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova.

Ia mengatakan bahwa sentimen negatif di sektor keuangan mendominasi pada perdagangan hari ini (4/6) mulai dari permasalahan utang Yunani hingga ekspektasi tren inflasi yang tinggi di dalam negeri.

"Untuk jangka pendek dan menengah ini cukup berat bagi rupiah untuk bergerak menguat," ucapnya.

Ia mengharapkan bahwa ada kesepakatan dalam penyelesaian utang Yunani agar terhindar dari gagal bayar obligasi yang dampaknya akan buruk bagi perbankan di kawasan Eropa yang memiliki surat utang Yunani.

"Jika tidak terjadi kesepakatan maka efek dominonya bisa ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Di sisi lain, rencana the Fed yang aka menaikan suku bunga juga masih membayangi pasar keuangan global," katanya.

Di tengah gejolak sentimen negatif itu, menurut dia, pelaku pasar uang akan menempatkan asetnya dalam bentuk mata uang dolar AS karena dinilai dapat menjaga nilai aset agar tidak tergerus oleh sentimen negatif yang beredar.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menambahkan bahwa penguatan dolar AS juga didukung oleh data tenaga kerja "Non-Farm Payroll" (NFP) Amerika Serikat versi ADP yang dirilis lebih bagus dari prediksi pasar dan berada di atas kisaran 200 ribu pekerja.

"Angka itu mendorong optimisme bahwa data NFP versi pemerintah yang akan dirilis Jumat (5/6) besok juga akan naik," katanya.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) hari ini nilai tukar rupiah melemah menjadi 13.243 dibandingkan hari sebelumnya (3/6) 13.196 per dolar AS.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2015