Jakarta (ANTARA News) - Delegasi Uni Eropa di Jakarta mengadopsi Aras, anak gajah dari Kawasan Ekosistem Leuser, sebagai maskot untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan dan kontribusinya pada penanganan perubahan iklim.

"Dengan masalah perubahan iklim yang semakin memprihatinkan, upaya menjaga keutuhan Kawasan Ekosistem Leuser menjadi semakin penting dan menjadi tanggung jawab mendesak kita," ucap Kepala Bagian Kerja Sama dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Franck Viault, dalam siaran pers, di Jakarta, Rabu.

Mengadopsi Aras, ujar Viault, merupakan simbol dari komitmen dan harapan dari Uni Eropa agar Unit Patroli Gajah (UPG) Aras Napal, di Leuser berhasil.

"Aras kecil yang kami adopsi kurang dua minggu sebelum ulang tahunnya yang ke 7 melambangkan upaya para pemangku kepentingan yang berkomitmen membuat UPG Aras Napal sebuah kisah yang sukses," ucap dia.

Dalam rangka Hari Diplomasi Iklim 2015, Uni Eropa juga ingin menyampaikan pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan adalah sebuah investasi sosial ekonomi jangka panjang untuk generasi mendatang.

Salah satu upaya Uni Eropa untuk mendukung pelestarian jangka panjang ekosistem dan pembangunan berkelanjutan dari kawasan sekitar Leuser adalah Program Pembangunan Leuser yang berlangsung pada tahun 199-2004.

Program Pembangunan Leuser membentuk Unit Patroli Gajah pada 2000 dengan mendatangkan gajah-gajah terlatih dari selatan Sumatra dan dengan tujuan untuk mengawasi dan melindungi bagian timur Kawasan Ekosistem Leuser serta kawasan sekitar hutan Aras Napal.

Saat ini UPG memiliki tiga gajah dewasa, yakni Aini, Tanti dan Dion. Tanti melahirkan bayi gajah bernama Aras pada 29 Juni 2008 yang kini diadopsi Uni Eropa.

Leuser yang mencakup areal seluas 2,6 juta hektar hutan hujan tropis Aceh dan Sumatra Utara merupakan satu dari ekosistem dunia yang kritis. Padahal kawasan itu memiliki keanekaragaman hayati yang penting.

Kawasan itu merupakan satu-satunya tempat di bumi dengan areal yang cukup luas untuk menjamin kelangsungan hidup jangka panjang populasi spesies-spesies langka, termasuk orangutan, harimau, gajah dan badak.

Kawasan Ekosistem Leuser juga menyerap karbondioksida dalam jumlah besar sehingga membuatnya menjadi modulator yang kuat untuk iklim kawasan dan sebuah tempat penyerapan karbon yang penting untuk menangani perubahan iklim global.

Jumlah gajah sumatra telah berkurang pula menjadi hanya 2.500 gajah dengan meningkatnya konflik antara satwa ini dan komunitas pertanian. Akibatnya, gajah sumatra yang merupakan subspesies gajah Asia, kini masuk dalam daftar spesies yang terancam punah. 

Pewarta: Dyah Astuti
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2015