New York (ANTARA News) - Harga minyak ditutup bervariasi pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena investor menghadapi meningkatnya ketidakpastian atas krisis utang Yunani dan upaya-upaya Tiongkok menahan kemerosotan saham di konsumen energi utama dunia.

Minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, acuan AS, merosot 20 sen menjadi berakhir di 52,33 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, tingkat terendah sejak pertengahan April.

Patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus ditutup di 56,85 dolar AS per barel di perdagangan London, naik 31 sen dari penyelesaian hari sebelumnya.

Pada Senin WTI jatuh hampir delapan persen dan Brent turun 6,3 persen karena prospek ekonomi suram mengangkat momok pelambatan lebih lanjut dalam permintaan minyak mentah global.

Investor khawatir tentang melemahnya permintaan minyak mentah akibat meningkatnya krisis utang Yunani, yang dapat menyebabkan negara itu meninggalkan zona euro, dan jatuhnya pasar saham Tiongkok meskipun pemerintah berupaya untuk mengakhiri penurunan tajam harga selama tiga minggu, kata analis.

Pada Selasa, Yunani secara tak terduga muncul tanpa satu set proposal reformasi baru pada pertemuan darurat menteri keuangan zona euro, setelah referendum pada Minggu menolak proposal Eropa.

Saham-saham Tiongkok jatuh lagi pada Selasa, menentang upaya pemerintah untuk menangkal penurunan tajam yang telah menghapus sekitar 3,2 triliun dolar AS nilai pasar dan mengancam ekonomi nomor dua dunia itu.

"Permintaan minyak dari Tiongkok bisa menurun lebih lanjut jika kehancuran pasar saham saat ini menyebar ke seluruh perekonomian, sementara keluarnya Yunani (dari zona euro) bisa mempengaruhi permintaan minyak dari Eropa," kata analis Jasper Lawler di CMC Markets.

Dolar menguat karena investor mencari tempat yang aman dari ketidakpastian (safe haven), menempatkan lebih banyak tekanan pada pasar minyak yang dihargakan dalam dolar.

Sementara itu, negosiasi tingkat tinggi di Wina antara enam negara besar dan Iran tentang ambisi nuklir Teheran pada Selasa secara efektif diperpanjang hingga Jumat. Sebuah kesepakatan dapat memungkinkan Iran untuk meningkatkan ekspor minyaknya, menumpuk lebih banyak tekanan pada harga.

"Rasa berkelanjutan bahwa perunding nuklir Iran membuat cukup kemajuan untuk memperpanjang pembicaraan, juga menambahkan risiko kemungkinan pencabutan sanksi, Iran, OPEC, dan pasokan minyak mentah dunia akan naik," kata Tim Evans dari Citi Futures, demikian AFP.

(Uu.A026)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015