Rabu, 18 Oktober 2017

PBB adakan pertemuan di Spanyol bahas teroris

| 7.625 Views
PBB adakan pertemuan di Spanyol bahas teroris
Ilustrasi. Helikopter Irak terbang melewati kendaraan militer di Husaybah, provinsi Anbar, Rabu (22/7). Pasukan keamanan Irak dan pejuang suku Sunni melakukan serangan untuk mengusir militan Negara Islam dan mengamankan rute persediaan di provinsi Anbar. (REUTERS/Stringer)
Madrid (ANTARA News) - Para pakar keamanan dan menteri, Senin, berkumpul di Madrid untuk melakukan pertemuan dua hari yang disponsori PBB guna membahas cara untuk menghentikan kelompok radikal meninggalkan negara mereka dan bergabung dengan kelompok bersenjata di luar negeri.

Pemerintah Spanyol mengatakan pihaknya juga akan memimpin pertemuan Komite Anti-Terorisme PBB pada Selasa, sehari setelah pembicaraan yang melibatkan para ahli internasional.

Spanyol tahun ini menjadi anggota Dewan Keamanan PBB dan telah meluncurkan tindakan keras terhadap kelompok radikal di dalam negeri, yang menurutnya meninggalkan negara untuk bertarung dengan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah.

Spanyol akan menjadi tuan rumah diskusi tentang cara untuk menghentikan mereka menjadi radikal dan bepergian ke luar negeri sebagai "teroris asing" (foreign terrorist fighters/FTF) - dan bagaimana untuk menghukum serta merehabilitasi mereka yang kembali.

PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan jika pertemuan itu bertujuan untuk "menghasilkan satu set strategi dan teknik untuk membimbing negara-negara anggota dalam upaya mereka untuk mengatasi ancaman FTF".

Petempur seperti itu "merupakan salah satu ancaman yang paling mendesak dan mengkhawatirkan bagi perdamaian dan keamanan internasional," tambah Madrid dalam sebuah pernyataan.

Negara harus bekerja sama "untuk bekerja melawan organisasi-organisasi teroris dengan cepat dan lancar" saat kelompok bersenjata beroperasi, kata Jean-Paul Laborde, direktur eksekutif komite PBB.

Lebih dari 200 ahli dari 70 negara dan sekitar 30 menteri luar negeri atau dalam negeri atau wakil mereka menghadiri pertemuan dua hari itu.

Para pejabat mengatakan antara 25 ribu sampai 31 ribu petempur tersebut telah menuju ke zona perang untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam, yang juga dikenal dengan singkatan Daesh.

Mereka di antaranya termasuk ratusan orang yang berasal dari negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Spanyol.

Laborde mengatakan para pemimpin perlu belajar "alasan mengapa orang-orang muda ini tertarik dengan Daesh, dan bagaimana mereka dapat ditangani".

Dewan Keamanan PBB pada September 2014 mengadopsi resolusi yang menyerukan negara-negara anggota untuk mengambil langkah-langkah untuk membendung aliran petempur asing, takut bahwa mereka dapat kembali untuk melancarkan serangan di negara asal mereka.
(Uu.G003)

Editor: Heppy Ratna

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar Pembaca
Baca Juga