Washington (ANTARA News) - Beberapa perusahaan besar Amerika Serikat menawarkan dukungan dan sumbangan dana miliaran dolar untuk mendukung pemerintahan Presiden Barack Obama dalam pencapaian kesepakatan global untuk memerangi perubahan iklim.

Google, Apple, Goldman Sachs dan 10 perusahaan terkenal lain bergabung dengan Gedung Putih dalam peluncuran Ikrar Bisnis Amerika tentang Iklim, kampanye yang menurut Gedung Putih akan menyuntikkan investasi rendah karbon senilai 140 miliar dolar AS ke ekonomi global.

Gedung Putih menyatakan perusahaan-perusahaan berjanji untuk setidaknya membawa 1.600 megawatt energi terbarukan baru.

Intensitas penggunaan air akan dikurangi 15 persen dan perusahaan-perusahaan memasang target nol deforestasi dalam rantai pasok mereka.

Google, yang mengklaim menjadi perusahaan pembeli energi terbarukan terbesar global, berjanji meningkatkan tiga kali lipat pembeliannya dekade mendatang.

Dalam blog di laman Google, CEO Eric Schmidt mengatakan sektor swasta bisa mengambil peran memimpin dalam perubahan iklim, tapi butuh kepastian politik untuk mendorong perusahaan-perusahaan meningkatkan investasi mereka.

"Kami perlu pemimpin-pemimpin politik dunia mengonfirmasi bahwa investasi di energi bersih aman, dan bahwa hukum dan kebijakan yang ditujukan untuk memungkinkan investasi semacam itu dirancang untuk jangka panjang," tulis Schmidt.

Sementara Apple berikrar membawa hampir 300 MW energi terbarukan di lima negara bagian dan Provinsi Sichuan di Tiongkok.

Perusahaan lain seperti General Motors, Bank of America, Microsoft, Coca Cola dan Pepsi Co. juga mengumumkan kebijakan penurunan emisi gas rumah kaca dan penggunaan lebih banyak energi bersih.

Pabrik minuman ringan Coca Cola dan Pepsi Co. berjanji mengurangi jejak karbon dalam bisnis mereka.

Pepsi berikrar memperluas inisiatif pertanian berkelanjutan untuk rantai pasoknya dan Coca Cola menyatakan akan menggurangi jejak karbon dalam "minuman di tangan Anda" sampai 25 persen pada 2020.

Sementara perusahaan Berkshire Hathaway menyatakan akan memensiunkan 75 persen kapasitas pembangkit berbahan bakar batu bara di Nevada tahun 2019.

Seperti dilansir kantor berita Reuters, Obama membutuhkan dukungan sukarela sektor swasta karena Kongres yang dikendalikan oleh Republik, yang punya kekuatan dalam pembiayaan publik, enggan mengesahkan belanja besar untuk investasi energi terbarukan.

Komitmen besar sektor swasta dinilai penting untuk mencapai kesepakatan global tentang perubahan iklim di Paris bulan Desember nanti.

Negara-negara yang sedang tumbuh menuntut kesepakatan apapun harus meliputi dana puluhan miliar dolar AS dari negara-negara maju untuk membantu perekonomian mereka beradaptasi dengan masa depan rendah karbon.

Meski tidak semua perusahaan mengikrarkan komitmen baru, pengumuman Senin menunjukkan kemampuan pemerintah menarik sektor swasta terlibat dalam pendanaan perubahan iklim internasional.

Mindy Lubber, presiden kelompok investor lingkungan Ceres, menyambut baik pengumuman itu namun mengatakan bahwa Gedung Putih tidak bisa hanya bertumpu pada janji-janji sektor swasta.

"Komitmen sukarela saja tidak akan memberi penurunan bermakna yang kita perlukan," katanya.

"Kebijakan penurunan karbon kuat sangat penting," tambah dia.

Tidak ada satu pun perusahaan yang terlibat dalam komitmen yang diumumkan Senin yang berasal dari sektor ekonomi bahan bakar fosil. Namun Gedung Putih menyatakan bisa ada ikrar putaran kedua menjelang konferensi iklim Paris.


Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2015