Jakarta (ANTARA News) - Peneliti dari pusat riset stem cell dan kanker menyatakan optimistis mampu mengembangkan teknologi imunoterapi yakni menggunakan sel T untuk pengobatan kanker.

Pengobatan kanker terbaru itu diklaim memberikan hasil yang signifikan dalam pengobatan kanker termasuk pada pasien kanker stadium lanjut.

"Kami memiliki kemampuan dasar pengembangan T-cell (sel T). Saat ini kami sudah membuat stem cell, yang teknologinya mirip dengan T-cell. Dari situ kami percaya diri bisa mengembangkan T-cell," ujar Direktur Stem Cell and Cancer Institute sekaligus Ketua umum Dr. Beonjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS), dr. Sandy Qlintang, di Jakarta, Sabtu.

Lebih lanjut, dalam kesempatan yang sama, Prof. Stephen Gottschalk, MD dari Baylor College of Medicine, Huoston, Texas, Amerika Serikat, mengungkapkan sel T berpengaruh positif dalam memanipulasi sistem imun, yang nantinya digunakan menghambat perkembangan dan melawan sel kanker dalam tubuh.

"Sel T berasal dari pasien sendiri. Sel itu diisolasi, diperbanyak dan dikembalikan ke pasien sendiri, untuk digunakan mengobati sel kanker dalam tubuhnya," kata dia.

Sandy mengungkapkan, saat ini kanker merupakan salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian terbesar di dunia dan Indonesia. Dunia kedokteran pun berusaha melakukan terobosan-terobosan untuk menemukan bagaimana penatalaksanaan kanker yang tepat, misalnya melalui deteksi dini, diagnosa yang akurat dan terapi yang tepat, salah satunya imunoterapi menggunakan sel T.

Gottschalk mengatakan, sel T dinilai menjanjikan dalam mengobati penyakit akibat virus epstein barr dan leukimia. Sementara untuk solid kanker seperti kanker payudara dan paru-paru, pihaknya masih memerlukan waktu pengujian lanjutan.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2015