Beirut (ANTARA News) - Pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak sepakat memulai gencatan senjata sejak Minggu tengah hari di tiga distrik medan pertempuran, kata kelompok pemantau dan pejabat setempat kepada AFP.

Gencatan senjata itu mencakup dua desa tersisa di Provinsi Idlib, Suriah baratlaut, yang masih berada di tangan pemerintah dan benteng terakhir pemberontak di dekat perbatasan Lebanon, kota Zabadani.

Kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia untuk Suriah mengatakan tidak ada pesan terucap langsung terkait gencatan senjata itu, tapi kedua saingan tersebut akan melanjutkan perundingan untuk gencatan senjata lebih luas.

"Pejuang berhenti melakukan gerakan dini hari tadi, namun gencatan senjata resmi akan dimulai pada siang hari atau pukul 09.00 GMT (15.00 WIB)," kata kepala pengamat itu, Rami Abdel Rahman.

Pasukan pro-pemerintah melancarkan serangan untuk mencoba merebut kembali Zabadani pada Juli lalu, memukul mundur aliansi pemberontak, termasuk ekstremis Muslim Sunni Al-Qaida yang mengepung desa-desa di Provinsi Idlib, yaitu Fuaa dan Kafraya, yang penghuninya adalah warga Syiah.

Seorang anggota dewan kota Zabadani yang telah terlibat dalam negosiasi gencatan senjata, menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut berlaku pada siang hari.

Kesepakatan itu muncul setelah pemberontak melancarkan sebuah serangan yang paling sengit di Fuaa dan Kafraya sejauh ini.

Serangan tersebut dimulai pada Jumat (18/9) dengan setidaknya sembilan bom mobil menghantam pinggiran dua desa itu, tujuh dari ledakkan itu dilakukan dengan bom bunuh diri.

Setidak-tidaknya 66 pemberontak, 40 milisi pro-pemerintah, dan tujuh warga sipil telah tewas dalam pertempuran itu, kata kelompok tersebut.

Direncanakan gencatan senjata pada Minggu itu akan menandai upaya ketiga untuk menyetujui gencatan senjata untuk tiga wilayah itu. Sebelumnya, dua kali perundingan bulan lalu gagal menghasilkan kesepakatan.

Pemblokiran telah menyebabkan penarikan diri semua pejuang pemberontak dari Zabadani sehingga membuat perjalanan yang aman untuk warga sipil yang ingin meninggalkan Fuaa dan Kafraya dan pengiriman bantuan makanan dan medis bagi mereka yang tetap ingin tinggal di sana, demikian AFP.

(Uu.B020)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015