Jakarta (ANTARA News) - Sampah telah mengubah hidup Endarwati, membuat asisten perias pengantin itu mengabdi untuk lingkungan dan menjadikannya sebagai direktur.

"Cita-cita saya dulu ingin bekerja di bank, karena kelihatan gaya dan uangnya banyak. Sekarang saya malah jadi direktur bank, meskipun Bank Sampah," kata perempuan berjilbab yang akrab di sapa Endar itu di Jakarta, Selasa (21/10).

Endar bangga bisa menjadi Direktur Bank Sampah Rosella di Rawa Barat, Jakarta Selatan. Dia pun membuat seragam sendiri, kaus seragam Rosella dan blazer hitam.

"Setelan saya seperti direktur mau kerja. Kalau ditanya cucu, saya bilangnya mau ke kantor," tutur Endar, yang sampai sekarang masih bekerja lepas sebagai perias pengantin.

Endar bangga dengan pekerjaannya di bank sampah, pekerjaan yang menurut dia merupakan bagian dari panggilan jiwa.

"Tidak mudah karena tidak bisa sekali ngomong lalu orang mau berubah, butuh bertahun-tahun. Tetapi ini panggilan jiwa. Saya bisa menemukan semua di sini, cari uang dan beramal," kata Endar.


Terus berkreasi

Lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas itu awalnya tidak pernah berpikir akan berurusan dengan sampah, apalagi menjadi Direktur Bank Sampah.

Tahun 2007 dia mengikuti perlombaan Jakarta Clear and Clean bersama ibu-ibu di lingkungan rumahnya dan kemudian melanjutkan program Bank Sampah di bawah binaan Yayasan Unilever Indonesia.

Setelah itu, Endar mengikuti berbagai pelatihan terkait pengelolaan limbah domestik.

"Kalau sekarang saya sering memberi pelatihan," katanya.

Bank Sampah Rosella, yang dibentuk tahun 2009, sekarang telah menerima dan mengolah hingga 150 kilogram sampah per bulan dari 165 nasabah.

Endar terus berjuang untuk mendapatkan banyak nasabah karena kalau nasabah makin banyak maka akan kian banyak pula sampah yang bisa diolah atau daur ulang.

Nasabah Bank Sampah Rosella memiliki buku khusus yang digunakan setiap transaksi atau penyetoran sampah.

Uang yang didapat dari setoran sampah dapat ditabung dan diambil manakala ada keperluan. Setiap tahun uang dari sampah yang disetor bisa senilai Rp2 juta.

Ia mengatakan nasabahnya tidak hanya berasal dari Kelurahan Rawa Barat tetapi juga dari wilayah lain, bahkan ada yang dari Tangerang. Tidak hanya itu, siswa Sekolah Dasar Negeri 09 Rawa Barat pun menjadi nasabah tetap mereka.

Sistem Bank Sampah Rosella juga telah direplikasi di wilayah lain.

"Ini lagi berjuang semoga apartemen di Senopati bisa menjadi nasabah kami," katanya.

Di "kantor" Bank Sampah, nasabah langsung disambut tempat untuk menimbang sampah yang setiap kilogramnya dihargai Rp1.000 untuk sampah campur (boncos) dan Rp200 untuk setiap sampah plastik yang sudah dibentuk menjadi kreasi kupu-kupu untuk bahan hiasan.

Kreasi kupu-kupu itu merupakan inisatif komunitas tersebut untuk mempermudah pekerjaan mereka dalam membuat berbagai jenis hiasan.

Warga yang belum menjadi nasabah bisa mendaftar dengan mengisi aplikasi rekening nasabah di kantor dengan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai galeri kreasi anggota Bank Sampah Rosella.

Aneka hiasan hasil daur ulang sampah seperti termasuk lampu, bunga dan tas yang harganya berkisar antara Rp1.000 dan Rp150 ribu ada di ruangan itu.

Tempat direktur yang juga menjadi galeri produk serta foto dari kegiatan Bank Sampah Rosella ada di bagian yang lebih dalam.

Di sana ada papan informasi harga paketan untuk dekorasi pelaminan yang dibuat dari daur ulang sampah. Endar dan rekan-rekannya menyulap sampah menjadi bahan dekorasi pernikahan, pesta ulang tahun dan acara seremonial.

Sementara di bagian belakang kantor, beberapa ibu duduk santai di atas tikar yang dibuat dari plastik bekas kemasan kopi sambil mengerjakan buah tangan untuk pernikahan yang dibuat dari kain perca.

"Kegiatan ini turut meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota kami dari hasil daur ulang sampah menjadi tas, dompet, celemek, hiasan, dan dekorasi sehingga mereka menjadi lebih mandiri dan kreatif," tutur Endar.

Dia bertekad terus mengajak masyarakat untuk mengelola limbah domestik melalui Bank Sampah.

"Kami ingin terus maju, bahkan punya galeri dan berharap produk daur ulang kami masuk di lingkungan usaha," kata Endar.

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2015