Ramallah/Gaza (ANTARA News) - Tiga warga Palestina terbunuh dan lebih dari 75 lainnya terluka dalam sehari bentrokan dengan pasukan keamanan Israel di wilayah Palestina menurut pejabat Kementerian Kesehatan negara itu, Jumat (30/10).

Seorang warga Palestina ditembak mati dan yang lainnya terluka berat kena tembakan tentara Israel dekat kota Nablus di bagian utara Tepi Barat pada Jumat petang.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan Qasem Sabaana (20) meninggal dunia setelah pasukan Israel melepaskan tembakan ke ada dua pria.

Seorang pria berusia 17 tahun yang bersama Sabaana terluka parah dan mendapat perawatan di rumah sakit lokal.

Sumber-sumber di kepolisian Israel menyatakan kedua pria itu berusaha menusuk polisi Israel di pos pemeriksaan Za'atara dekat Nablus.

Petugas medis diizinkan membawa korban yang terluka dan meninggal dunia ke rumah sakit Palestina, tidak seperti pada kejadian sebelumnya di mana Israel akan menangkap tersangka yang menyerang Israel, atau menahan jenazah yang korban meninggal dunia.

Selanjutnya, pada Jumat seorang warga Palestina dari bagian timur Yerusalem juga ditembak mati oleh pasukan polisi Israel setelah dia menusuk seorang Israel di sana.

Orang Israel yang ditusuk menderita luka ringan sampai sedang menurut laporan radio publik Israel, yang menambahkan bahwa saksi yang lain mengalami luka sedang karena pasukan Israel keliru menembaknya.

Selain itu, pada Jumat, seorang balita berusia delapan bulan bernama Mohammed Thawabta meninggal dunia karena menghirup gas air mata di Desa Beit Fajjar dekat Bethlehem dalam bentrokan yang meletus antara tentara Israel dan warga Palestina pelempar batu di desa menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Ratusan warga Palestina ambil bagian dalam protes yang berubah menjadi kericuhan di Tepi Barat dan Gaza setelah faksi-faksi Palestina menyerukan satu "hari kemarahan" untuk memprotes kekerasan Israel.

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan dalam satu pernyataan bahwa lebih dari 75 warga Palestina terluka, 46 di antaranya dari Jalur Gaza.

Warga Palestina terluka karena tembakan pasukan Israel selama bentrokan yang meletus di kota-kota Tepi Barat yakni Ramallah, Hebron, Bethlehem dan Nablus, serta di perbatasan antara timur, utara dan selatan Jalur Gaza dan Israel.

Pasukan Israel secara berlebihan menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa, dan para pegiat berbagi video mengenai tentara Israel yang menyerang jurnalis dalam bentrokan dekat permukiman Bet El yang berdekatan dengan Ramallah.

Ketegangan makin meningkat, utamanya setelah di Kota Hebron dan Jenin, Tepi Barat, tempat keluarga menerima enam jenazah warga Palestina yang terbunuh dalam kerusuhan yang meletus pada awal Oktober.

Lima jenazah dikirim ke Hebron dan pemakaman rencananya digelar pada Sabtu. Di Jenin, bagian utara Tepi Barat, Israel mengirimkan jenazah Ahmed Kmail yang berusia 16 tahun ke keluarganya untuk dikuburkan.

Israel masih menahan 26 jenazah warga Palestina yang terbunuh dalam gelombang kerusuhan yang berlangsung sejak awal Oktober.

Israel menahan jenazah mereka setelah menuduh orang-orang yang terbunuh itu berusaha menusuk atau menusuk orang Israel.

Sementara para pemimpin Palestina melanjutkan upaya diplomatik untuk mencari perlindungan bagi rakyat Palestina di platform internasional.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas sudah bertemu dengan jaksa Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) Fatu Bin Souda di Hague, Belanda, Jumat, guna menyoroti kekerasan Israel terhadap warga Palestina.

Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (Palestinian Liberation Organization/PLO) Saeb Erekat mengatakan Abbas menyerahkan berkas kekerasan Israel yang meliputi 53 halaman ke ICC.

"Dokumen itu merinci setiap kejahatan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina selama bulan Oktober, utamanya kejahatan di jalan dan eksekusi ekstra yudisial," kata Erekat dalam pernyataan kepada pers.

Pembunuhan pada Jumat menambah jumlah korban jiwa dari Palestina dalam gelombang kekerasan terkini yang meletus sejak 1 Oktober menjadi 71 orang, kata Kementerian Kesehatan.

Selain itu ada lebih dari 2.000 orang yang terluka kena tembakan pasukan keamanan Israel.

Gelombang ketegangan di area itu muncul pertengahan September menyusul kebijakan Israel di kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur, yang ditolak keras oleh warga Palestina, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua.

Penerjemah: Maryati
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2015