Tokyo (ANTARA News) - Kurs dolar AS berada di bawah tekanan penjualan lebih lanjut pada Jumat, karena investor berbalik berhati-hati karena penurunan saham global menjelang pengumuman data penjualan ritel Amerika Serikat.

Prospek pengetatan bertahap kebijakan moneter Amerika Serikat jika dan ketika Federal Reserve Amerika Serikat mulai menaikkan suku bunganya telah membebani mata uang AS.

"The Fed mungkin mempertimbangkan bahwa tidak perlu memaksa pasar untuk meningkatkan berapa banyak patokan harga mereka dalam kenaikan suku bunga Desember," kata Etsuko Yamashita, kepala ekonom di Sumitomo Mitsui Banking Corp di New York.

"The Fed mungkin akan menghindari melawan perkembangan tak menentu di pasar keuangan, karena masih ada satu bulan sebelum pertemuan kebijakan. Itu berarti akan menjadi sulit bagi dolar untuk terus menguat selama beberapa minggu ke depan," katanya kepada Bloomberg News.

Greenback jatuh terhadap semua 10 mata uang negara maju kecuali terhadap krone Norwegia minggu ini, karena wakil ketua The Fed Stanley Fischer mengatakan pada Kamis keputusan The Fed untuk menunda menaikkan suku bunga telah membantu mengimbangi headwinds ekonomi yang disebabkan oleh penguatan dolar.

Kebijakan akan diperketat hanya secara bertahap setelah The Fed mulai menaikkan suku bunganya, Kepala Cabang The Fed New York William Dudley C. mengatakan sebelumnya.

Pada Jumat, penurunan pasar saham global mendorong pembelian yen di antara investor yang tertarik untuk menghindari risiko.

Sementara itu, euro juga menghadapi pesanan jual setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengisyaratkan kemungkinan perluasan program pembelian aset ECB.

Draghi mengatakan kepada Parlemen Eropa pada Kamis bahwa "tanda-tanda pembalikan arah berlanjut dalam inflasi inti telah agak melemah" dan "normalisasi inflasi berlanjut bisa memakan waktu lebih lama dari yang kita antisipasi pada Maret."

Dolar, yang telah diperdagangkan di tingkat 123 yen awal pekan ini, dibeli 122,61 yen di perdagangan sore Asia, hampir tidak berubah dari 122,60 yen di New York pada Kamis sore.

Euro dibeli 1,0791 dolar dan 132,31 yen, dari 1,0814 dolar dan 132,58 yen di New York.

Dolar AS juga masih menguat terhadap sebagian besar mata uang negara berkembang di Asia.

Rupiah Indonesia melemah 0,4 persen terhadap greenback, sementara peso Filipina dan baht Thailand juga turun tipis.

Ringgit Malaysia melemah 0,2 persen dan dolar Singapura menurun 0,1 persen, tetapi rupe India naik 0,3 persen, demikian seperti dilansir kantor berita AFP. (Uu.A026)
 

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2015