Singapura (ANTARA News) - Harga minyak naik di perdagangan Asia, Selasa, tapi para pedagang berhati-hati menjelang pertemuan OPEC di mana kartel diperkirakan akan mempertahankan tingkat produksi yang tinggi meskipun pasokan global membanjir.

Para analis mengatakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) cenderung lebih fokus pada mempertahankan pangsa pasar terhadap pesaingnya daripada mengurangi produksi untuk mengangkat harga minyak.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 33 sen menjadi 41,98 dolar AS per barel, dan minyak mentah Brent untuk Januari diperdagangkan 23 sen lebih tinggi di 44,84 dolar AS per barel pada sekitar pukul 06.00 GMT.

"Minyak mentah tetap di sisi lemah karena banyak yang memperkirakan OPEC menjadi tak tergoyahkan tentang target produksinya ketika kelompok itu berkumpul pada Jumat ini," kata Bernard Aw, penyiasat pasar di IG Markets di Singapura, seperti diberitakan AFP.

"Harga minyak mentah cenderung tetap bergerak menyamping menjelang pertemuan OPEC, di mana Iran akan mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksinya."

Iran diperkirakan meningkatkan ekspor minyaknya setelah sanksi-sanksi Barat yang melumpuhkan dicabut, berdasarkan kesepakatan yang dicapai dengan kekuatan utama dunia pada Juli untuk mengekang program nuklirnya.

Sanksi-sanksi telah membatasi pengiriman minyak Iran dan para analis mengatakan mereka akan kembali ke pasar sehingga semakin menambah kelebihan pasokan minyak mentah.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pekan lalu negaranya mengharapkan kesepakatan mulai berlaku pada awal Januari, ketika Teheran akan mengimplementasikan komitmennya.

Harga minyak telah turun dari tingkat di atas 100 dolar AS per barel di pertengahan 2014, dengan percepatan penurunan setelah pertemuan OPEC November 2014 mengisyaratkan kelompok itu akan mempertahankan produksi yang tinggi.

Sementara itu, sebuah ukuran penting aktivitas manufaktur Tiongkok turun menjadi ke tingkat terlemah dalam lebih dari tiga tahun pada November, yang lebih lanjut menggarisbawahi pelemahan di konsumen energi utama dunia itu.

Indeks pembelian manajer resmi sektor manufaktur jatuh ke 49,6, biro statistik pemerintah mengatakan. Ini merupakan penurunan bulan keempat berturut-turut dan angka terendah sejak Agustus 2012.

(Uu.A026)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2015