Ouagadougou  (ANTARA News) - Lebih dari 120 sandera pada Sabtu diselamatkan di tengah rentetan tembakan teroris terkait Al Qaidah di Hotel Splendid, Kota Ouagadougou, Burkina Faso, yang berlangsung sejak Jumat larut malam, demikian laporan sejumlah kantor berita transnasional.

Aparat keamanan Burkina Faso, negeri bekas jajahan Prancis, melaporkan bahwa pasukan anti-teror dan para sandera sama-sama berani mati ketika menyelamatkan diri dari teroris bersenjata, yang juga menembak mati puluhan sandera.

Duta besar Prancis untuk Burkina Faso, Gilles Thibault, dalam akun Twitter G_Thibault_Fr melaporkan bahwa 27 orang tewas dalam serangan itu, dan ada tiga teroris tewas.

Thibault juga bercuit, tidak ada perempuan di antara para teroris, dan kewarganegaraan korban tewas belum terkonfirmasi.

Laporan Duta Besar Prancis itu bertentangan dengan informasi yang sempat beredar di kalangan wartawan kantor berita transnasional bahwa tiga teroris itu perempuan, yang tewas saat serangan pembebasan pasukan anti-teror Burkina Faso didukung tentara Prancis.

Sementara itu, Perdana Menteri Prancis, Manuel Valls, dalam akun Twitter menegaskan bahwa teroris kembali melanda dunia.

"Dengan menyerang Burkina Faso, teroris telah kembali melanda dunia. Bersama-sama kita akan merespon dan kami akan mengatasi," cuit Manuel Valls melalui akun: manuelvalls.

Adapun aparat keamanan Burkina Faso juga melaporkan dua warga Austria, seorang dokter dan istrinya, diculik pada Jumat malam di bagian utara, dekat perbatasan dengan Mali.

Penculikan terjadi di daerah Baraboule, dan kementerian keamanan negeri di Benua Afrika itu tidak berani memastikan apakah penculikan itu ada kaitan dengan serangan teroris ke Hotel Splendid di Ouagadougou, ibu kota Burkina Faso.

Salah seorang tamu Hotel Splendid, Yannick Sawadogo, mengemukakan saat teroris masuk langsung melancarkan serangan mereka dan menembak ke segala arah sehingga menewaskan banyak orang.

"Itu mengerikan. Orang-orang tergeletak di tanah dan ada darah di mana-mana. Mereka menembak orang dari jarak dekat," katanya kepada kantor berita AFP.

Ia menambahkan, "Kami mendengar mereka berbicara dan berjalan sekitar orang-orang sambil menembaki mereka yang tidak mati. Dan, ketika mereka pergi juga membuat tempat terbakar. Kemudian, kami yang selamat melarikan diri melalui jendela yang hancur."

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2016