Jakarta (ANTARA News) - Demo para pengemudi taksi yang memrotes keberadaan taksi aplikasi hari Selasa, 22 Maret 2016, berakhir dengan rusuh. Sudah banyak pandangan para pakar dari sudut bahasan model bisnis tentang "sharing economy" yang sebenarnya mengajak semua untuk memutar jarum jam kebelakan, kembali sejenak melihat perkembangan ilmu ekonomi.

Ekonomi awalnya dijalankan dengan barter, ketika uang belum menjadi alat tukar yang sah. Bila bisa bertukar, mengapa harus membuat sendiri.

Uang seolah telah menjadi segala-galanya, padahal banyak aset dan sumber daya yang dapat dibagi agar tak ada yang "idle" atau sia-sia. Padahal, hidup ini ekosistem yang saling tergantung satu sama lain. Ketamakan sering merusaknya.

Saling berbagi tumpangan dengan tagar #nebengers di twitter sudah lama menjadi solusi bagi para pengguna "sharing economy" ini.

Saling memanfaatkan barang lama layak pakai untuk membantu orang lain sudah lama dilakukan oleh sebuah platform yang membantu pengguna lain melalui tagar #UpGradeIndonesia.

Gaya hidup berbagi kembali menemukan momentumnya. Berbagai komunitas kepedulian, gerakan "crowd funding" dengan dukungan aplikasi teknologi informasi telah menjadi bagian dari solusi kita akhir-akhir ini.

Google Play dan Apple Store kebanjiran permohonan dari berbagai pemilik aplikasi untuk berbagi pendapatan melalui model bisnis yang disepakati.

Toko kaset dan CD sudah lama bangkrut lantaran aplikasi Itunes mengubah model bisnis penjualan rekaman. Tak ada penyanyi atau pencipta lagu yang protes, semua menyesuaikan dan kompromi.

Ekonomi berbagi yang ditunjang oleh teknologi telah menyambungkan suara hati yang makin terkoneksi, sebagaimana dipraktikkan berabad-abad lalu.


Manajerial atau mentalitas


Kembali pada kisruh menyikapi taksi dan ojek aplikasi, saya berusaha melihat dari sudut lain, apakah ini masalah manajerial atau mentalitas kita?

Dalam berbagai tayangan dan pemberitaan media terlihat jelas bagaimana para pengemudi yang juga para pahlawan keluarga itu pun bisa kehilangan kemanusiaannya.

Mereka tega melakukan kekerasan kepada para pengemudi taksi dan ojek aplikasi yang juga pahlawan keluarga. Kekerasan pun saling berbalas.

Peristiwa itu boleh jadi bisa meletup kembali bila regulator tidak cepat mengatur keberadaan taksi dan ojek aplikasi itu dengan adil yang melibatkan para pihak yang berkepentingan.

Negara wajib hadir dengan mengajak para pihak duduk bersama mencari solusi. Sebab, negara ini tak boleh dikendalikan tanpa kemudi, tanpa otoritas.

Solusi bagi taksi dan ojek aplikasi dan para pengemudi taksi non-aplikasi yang lebih adil dan jaminan terhadap para pengguna pasti bisa dirumuskan, sepanjang semua pihak berniat baik dan serius dan membuka masalah dengan terang-benderang, tak terkecuali para pemilik perusahaan taksi non-aplikasi, pengelola taksi, dan ojek aplikasi.

Menteri Kominfo dan Menteri Perhubungan yang sempat berbeda pandangan terbuka, sudah selayaknya menjadikan masalah ini sebagai prioritas.

Bukan tak mungkin kehadiran teknologi informasi akan terus menghadirkan masalah-masalah lain bila regulator tak cermat mengantisipasinya, lantaran teknologi terus berkembang pesat yang sebenarnya hadir untuk menjadi solusi bagi kehidupan manusia.

Amartya Sen, ekonom India, pemenang hadiah Nobel tahun 1998 menyatakan bahwa "kehadiran teknologi hakekatnya untuk kemanusiaan".

Bila itu masalah manajerial, apakah para penyelenggara negara tak memiliki "sense of urgency"? Kabar para pengemudi akan turun ke jalan sudah beredar sepekan sebelum kejadian itu.


Dari mana memulainya?

Bila peristiwa itu masalah mentalitas kita, dari mana kita mulai bisa mengubahnya? Siapa yang harus memulainya? Sebab simpul-simpul pembentuk karakter banyak dan bertingkat.

Siapa yang membentuk karakter para pengemudi dan kita semua yang cenderung makin tidak sabar dan mudah meletup menjadi anarkis? Banyak kajian dari berbagai sudut pandang psikologi atau sosiologis untuk menjawabnya.

Apapun, Idealnya, kehadiran negara yang melakukan penegakan hokum atau aturan tanpa pandang bulu akan membuat suasana hati kita semua lebih tenteram.

Antara masalah manajerial yang memerlukan kepemimpinan dan mentalitas kita nampaknya saling berhubungan. Mana yang lebih duluan? Boleh jadi bagaikan menjawab mana duluan, telur atau ayam.

Saya yakin banyak di antara kita memilih pentingnya perilaku kepemimpinan yang peduli dan tidak abai terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Membangun "sense of urgency" dan menjadikan rakyat sebagai orientasi pelayanan, prioritas.

Tanpa "sense of urgency", mentalitas kita melahirkan para pelaku manajerial yang melakukan semua "business as usual", bahkan tak punya arah dan prioritas.

Atau sebaliknya, para pemimpin atau pengelola manajemen yang abai terhadap arah dan prioritas lah yang menyebabkan buruknya mentalitas sebagian dari kita.

Kabar tak sedapnya, kita juga sebagian dari para pemimpin itu. Kita adalah pemimpin keluarga. Kita juga pelaku berkendara di jalan raya. Situasi abai itu, masih terlihat sehari-hari. Perilaku kita, terutama di jalan raya.

Kapan terakhir kita melewati marka jalan. Menerabas lampu merah. Mengambil jalur orang lain secara mendadak tanpa menyalakan lampu sen. Mengambil bahu jalan.

Di luar soal kontribusi kita semua, para pengelola organisasi publik, BUMN, dan lembaga-lembaga yang mendapat mandat dari Negara juga ikut saweran menyemai mentalitas buruk, abai terhadap pentingnya solusi agar negara hadir.

Sebagai pengguna jalan tol, misalnya, setiap hari kita juga sering dihadapkan pertanyaan mengapa para pengelola manajemen perbankan lama sekali menyelesaikan masalah akses pemakai kartu elektronik semua bank agar bisa dipakai pada semua gerbang e-toll? Semua "dipaksa" untuk membeli kartu e-toll itu, padahal pasti ada solusi hitung-hitungan yang "win-win" bagi semua.

Hitung-hitungan tak kunjung tiba, seakan menanti baliknya investasi yang ditanam sebuah bank besar pemerintah. Pengalaman penggunaan jaringan ATM Bersama dan "tower" atau menara bersama untuk penggunaan "BTS" seluler bisa jadi contoh sukses yang patut ditiru pada era "sharing economy", itu pun melalui proses yang awalnya tak mudah. Namun, bisa bila ada kememimpinan organisasional yang bekerja dan efektif.

Situasi abai lain, mengapa masih banyak pengendara kendaraan pribadi atau umum yang seenaknya melanggar aturan di jalanraya, berhenti di tempat yang tak seharusnya. Padahal tak jauh di sana, sering terlihat aparat bertugas.

Apakah aparat itu sedang bekerja atau seolah-olah bekerja? Berapa banyak energi fosil yang dibakarsia-sia lantaran macet karenanya.

Ketertiban menjadi barang yang mahal. Dari mana kita mulai perilaku tertib ini? Saya yakin kita semua bisa menjawabnya, sebab jawabannya terdapat pada suara hati kita yang merindukan ketertiban juga, bukan?

Kisruh aplikasi untuk taksi dan ojek ini nampaknya bisa jadi "wake-up cal" untuk kita tentang mulianya peran kepemimpinan yang dapat mengubah mentalitas orang-orang di sekitar kita.

Akhirnya, kita bisa mulai dari diri kita, keluarga, dan lingkungan terdekat. Momentum perubahan milik kita semua, bukan milik para pengemudi taksi yang kemarin berdemo semata.

Apakah kita termasuk kategori pemimpin yang menularkan mentalitas buruk pada lingkungan sekitar atau sebaliknya?

*) Penulis Direktur Utama Perum LKBN ANTARA periode 2007-2012. Twitter: @mukhlisyusuf.

Oleh Ahmad Mukhlis Yusuf *)
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2016