Jumat, 28 April 2017

Transaksi kopi SCAA di AS capai 35 juta dolar

| 5.208 Views
id kopi, ekspor kopi, kopi di as, atase perdagangan as, Reza Pahlevi Chairul
Transaksi kopi SCAA di AS capai 35 juta dolar
ilustrasi Produksi Kopi Trasisional Pekerja mengolah kopi secara tradisional di kawasan sentra produksi kopi rumahan Keutapang Dua, Darul Imara, Aceh Besar, Aceh, Rabu (15/4/15). Bubuk kopi yang diproduksi secara tradisional dan menggunakan bahan bakar kayu itu, permintaannya masih tinggi karena memiliki khas tersendiri dengan harga jual untuk jenis bubuk kopi super seharga Rp75.000 perkilo. (ANTARA FOTO/Ampelsa) ()
Jakarta, 18/4 (Antara) - Transaksi kopi Indonesia pada ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS), mencapai 35 juta dolar AS atau setara dengan 392 kontainer dan diperkirakan nilai transaksi tersebut akan terus meningkat.

"Seluruh 17 kopi pilihan yang dilelang habis terjual hanya dalam waktu tiga jam," kata Atase Perdagangan Washington DC, Reza Pahlevi Chairul, dalam siaran pers yang diterima, Senin.

Reza mengatakan, lelang kopi tersebut berhasil membukukan transaksi sebesar 11.900 dolar AS atau berkisar Rp160 juta. Kopi terbaik yang berhasil dijual dalam lelang adalah kopi dari Gunung Puntang, Jawa Barat, yang dimenangkan oleh Phil Goodlayson dari Corvus Coffee, Denver, dengan harga jual tertinggi 55 dolar AS per kilogram atau berkisar Rp750.000 per kg.

"Ini adalah rekor terbaru lelang kopi Indonesia," ujar Reza.

Tujuh belas specialty coffee yang dilelang adalah Gunung Puntang, Mekar Wangi, Manggarai, Malabar Honey, Atu Lintang, Toraja Sapan, Bluemoon Organic, Gayo Organic, Java Cibeber, Kopi Catur Washed, West Java Pasundan Honey, Arabica Toraja, Flores Golewa, Redelong, Preanger Weninggalih, Flores Ende, serta Java Temanggung.

Transaksi kopi Indonesia yang membukukan transaksi hingga mencapai 35 juta dolar AS untuk 392 kontainer tersebut, merupakan total transaksi yang diperoleh dari transaksi di arena pameran, MoU, dan hasil lelang yang diperkirakan, transaksi akan terus bertambah hingga beberapa bulan ke depan.

Dalam pameran tersebut, seorang petani kopi dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, bernama Leo Purba memberikan kuliah di arena SCAA Expo. Leo memberikan kuliah mengenai teknik giling basah dengan judul "Exploring Semi Wash Process and Farmers Challenges in Facing Global Market".

"Pada kuliah tersebut, dibahas bahwa pergerakan third wave coffee memberikan pengaruh yang positif dalam mendorong peningkatan proses perbaikan kualitas pengolahan kopi di Indonesia. Perkembangan ini pada akhirnya membuat petani kopi Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam mengisi permintaan pasar specialty coffee dunia," kata Direktur Pengembangan Promosi dan Citra, Kementerian Perdagangan, Merry Maryati.

Topik lain yang menjadi perhatian hadirin adalah mengenai perkembangan peran dan pemberdayaan perempuan dalam industri kopi Indonesia. Topik itu dibahas dalam diskusi International Women's Coffee Alliance (IWCA) Breakfast yang dihadiri Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini.

Pada pameran kali ini, mulai dijajaki kegiatan SCAA Origin Trip ke Indonesia dan telah dibicarakan antara Delegasi Indonesia dengan Peter Gulliano, Senior Director of Symposium SCAA.

SCAA Origin Trip juga akan dijadikan sebagai momentum edukasi dan promosi kopi Indonesia dari para roasters AS dengan petani dan supplier specialty coffee Indonesia. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober 2016, bertepatan dengan pelaksanaan Trade Expo Indonesia ke-31.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga