Sabtu, 23 September 2017

Harga kemacetan Jakarta Rp150 triliun setahun

| 6.343 Views
Harga kemacetan Jakarta Rp150 triliun setahun
Kendaraan terjebak kemacetan ketika uji coba penghapusan sistem 3 in 1, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/4/2016). Dinas Perhubungan DKI Jakarta memperpanjang uji coba penghapusan sistem 3 in 1 di sejumlah jalan protokol ibu kota hingga 14 Mei 2016 usai rapat evaluasi dengan polisi. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
... merupakan angka fantastis yang selama ini ditanggung masyarakat...
Bekasi, Jawa Barat (ANTARA News) - Berapa kira-kira "harga" kemacetan di DKI Jakarta? Dinas Perhubungan Pemerintah DKI Jakarta mengutip data Masyarakat Transportasi Indonesia, yaitu sekitar Rp150 triliun setahun. 

"Data itu dilaporkan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia kepada kami," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, di Bekasi, Senin.

Uang Rp150 triliun setahun itu hampir separuh dana APBN saban tahun untuk sektor pendidikan. Jika harga satu mobil SUV baru sekitar Rp150 juta maka biaya kerugian akibat macet itu setara penjualan 1.000.000 unit mobil itu dalam setahun. 

Penjualan mobil baru di Indonesia juga sekitar 1.000.000 unit setahun. Belum lagi penjualan sepeda motor. 

Menurut dia, banyak lagi biaya sosial yang dihabiskan masyarakat selama bermacet-macet di jalan, mulai dari biaya BBM kendaraan hingga biaya kesehatan akibat polusi udara. Tidak diungkap nilai kerugian secara kualitatif yang lain, misalnya biaya kerugian kesempatan usaha karena waktu habis di jalan. 

Besaran nilai kerugian itu, kata dia, merupakan angka fantastis yang selama ini ditanggung masyarakat.

Saban hari ada 2 juta orang penglaju di DKI Jakarta dan sekitarnya. Dinas Perhubungan DKI Jakarta masih memetakan sejumlah titik kemacetan di Jakarta berdasarkan kapasitas tampung jalan maupun pertumbuhan kendaraan di kawasan setempat.

Banyak cara tengah disiapkan untuk mengatasi kemacetan parah Jakarta ini. Di antaranya memperbaiki pelayanan operasional transportasi massal, mulai kereta api maupun bus berskala besar, kecil dan sedang.

"Saat ini kita sedang memperluas jaringan trayek Transjakarta ke Bodetabek agar jumlah warga pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan umum," katanya.

Pengguna kendaraan pribadi yang bersedia hijrah ke transportasi massal, kata dia, baru 13 persen dari target sebanyak 60 persen.

Bukan cuma di infrastruktur transportasi massal saja yang disiapkan, juga pengusaha mal di Jabodetabek untuk penyediaan lahan parkir. "Kami akan perbanyak park and ride di sejumlah mal yang dilintasi jaringan trayek Transjakarta," katanya.

Selain proyek transportasi massal, kata dia, pihaknya juga tengah menggagas pembuatan kawasan terintegrasi jaringan transportasi, fasilitas umum, dan pemukiman.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar Pembaca
Baca Juga