Bangkok (ANTARA News) - Raja Thailand Bhumibol Adulyadej  (88) menjalani perawatan di rumah sakit akibat komplikasi adanya cairan pada otaknya, demikian pengumuman Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand.

Raja yang memerintah terlama di dunia itu telah dirawat di rumah sakit kota Bangkok karena sejumlah gangguan kesehatan selama setahun ini.

Raja Bhumibol terakhir terlihat di depan umum pada 11 Januari 2016, ketika ia menghabiskan beberapa jam mengunjungi istananya di Bangkok.

Sebagian besar warga Thailand tidak mengenal raja yang lain, karena raja yang dihormati itu naik tahta sekitar 70 tahun lalu. Raja Bhumibol Adulyadej semasa sehat dikenal dekat dengan rakyatnya, bahkan sering berkeliling negeri membawa kamera untuk memotret dan berbincang mengenai kehidupan penduduk.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Bhumibol telah menghabiskan sebagian besar dari enam tahun terakhir ini di rumah sakit. Kekhawatiran menyangkut kesehatan raja danp roses suksesi telah menjadi latar belakang krisis politik selama lebih dari satu dasa warsa di Thailand.

Apalagi, militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta dua tahun lalu di Negeri Gajah Putih itu.

Pihak istana mengatakan, pemeriksaan terhadap kesehatan raja menunjukkan terdapat cairan pada otak (hydrosephalus), yang berasal dari peningkatan cairan cerebrospinal yang mengelilingi otak. Dia dirawat karena hal yang sama pada Agustus 2015.

Cairan tersebut telah dibersihkan dan kondisi raja sedang dipantau dokter, demikian pernyataan istana Thailand.

Berita tentang keluarga kerajaan dikontrol ketat di Thailand. Hukum melindungi keluarga kerajaan dari penghinaan sehingga aksi pencemaran nama baik, penghinaan atau pengancaman raja, ratu, ahli waris tahta atau bangsawan merupakan tindak kejahatan.

Informasi terkait kesehatan Raja Bhumibol biasanya diumumkan ke publik setelah dia pulih. Pihak istana mengeluarkan pernyataan terkait kesehatannya pada 14 Mei 2016. Istana saat itu menyatakan, Raja Bhumibol menderita bengkak pada paru-paru dan lutut.


Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2016