Rabu, 24 Mei 2017

Binatangisme: membangun peradaban di bonbin

| 52.392 Views
Binatangisme: membangun peradaban di bonbin
Parni Hadi (ANTARA/Reno Esnir)
Salah satu tujuan kewajiban berpuasa Ramadhan sebulan penuh setiap tahun adalah untuk melatih manusia agar tidak mengumbar hawa nafsunya agar ia menjadi manusia yang bertakwa, demikian kata seorang kyai yang selalu saya ingat.

Orang-orang yang mengumbar nafsu untuk bersenang-senang dan makan-minum itu sama dengan binatang, lanjut Pak Kyai, merujuk Al Quran, Surat Muhammad, ayat 12 dalam Al Quran (QS 47:12).

Tapi, binatangisme dalam tulisan ini tidak merujuk kepada pengumbaran hawa nafsu. Sebaliknya, ini adalah suatu sistem pemikiran yang komplet dari sejumlah binatang, yang intinya: Manusia itu jahat, rakus, mau menang sendiri dan menjadi musuh semua binatang. Ini bisa dibaca dalam buku novel "Animal Farm" karya George Orwell, pengarang Inggris pada masa Perang Dunia II.

Alkisah, di Peternakan Manor di Inggris milik Pak Jones ada seekor babi putih tua dan dihormati, bernama Major. Pada suatu malam Major bermimpi aneh dan ingin menyampaikan hal itu kepada binatang-binatang di peternakan itu. Ada sapi, kuda, anjing, biri-biri, kucing, tikus, kambing, keledai, gagak, angsa, ayam, dan lain-lain.

Major dalam mimpinya mendapat wangsit untuk menggugat dan mengadakan pemberontakan terhadap manusia. "Hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras dan pendek. Kita lahir, diberi makan begitu banyak untuk hidup. Kemudian disuruh kerja keras sekuat tenaga. Setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara keji," kata si babi putih beragitasi.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah untuk menarik bajak. Tapi, ia adalah penguasa atas semua binatang," lanjutnya.

Dengan berapi-api, Major menambahkan: "Manusia menyuruh binatang bekerja, tapi mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga agar binatang tidak kelaparan dan bisa dipekerjakan. Tenaga kita diperas habis, kotoran kita pun untuk pupuk."

Novel alegori politik itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Budayawan Bakdi Sumanto.

Seraya menunjuk seeokor sapi, Major melanjutkan: "Wahai sapi, berapa ribu galon susu yang telah kamu berikan selama satu tahun lalu? Dan, apa yang terjadi dengan susu yang seharusnya untuk membesarkan anak-anak sapi? Setiap tetes susu telah masuk ke kerongkongan musuh kita (manusia)". Pernyataan ini senada dengan pesan puisi Kahlil Gibran bahwa manusia adalah perampok hak anak sapi.

"Lalu, kamu ayam betina, berapa ratus butir sudah kamu hasilkan? Dan, berapa yang pernah ditetaskan menjadi ayam?," tanya Major. Pertanyaan ini mengingatkan sebuah foto dalam sebuah whatsapps (WA) Group yang menampilkan foto bersama keluarga besar ayam pada awal Ramadhan dengan judul "Khawatir tidak bisa berfoto bersama lagi, karena menjelang Lebaran sudah disembelih".

Sehat-kuat berkat pengorbanan binatang

Manusia berutang banyak kepada binatang untuk dapat bertahan hidup, sehat, kuat, perkasa, tampil ganteng dan cantik. Itu berkat mengonsumsi daging, telur, susu, memakai baju yang dibuat dari kulit dan bulu binatang, minum obat dan memakai kosmetik yang memakai binatang sebagai percobaan. Biar perkasa, banyak pria mengonsumsi organ binatang, seperti tangkur (alat vital) buaya dan otak budheng (kera warna hitam).

Buku The Environmental Wars karya David Day mengungkapkan betapa penderitaan binatang demi kebahagiaan hidup manusia. Tak terhitung jumlah monyet, kelinci, anjing dan tikus yang berkorban menjadi buta, cacat seumur hidup dan kehilangan nyawa sebagai uji obat dan bahan kosmetik.

Prof Dr Drh Dondin Sayuthi dari Institut Pertanian Bogor, teman saya sesama anggota Komite Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional (KEPPKEN), mengatakan ada etika dalam memperlakukan hewan percobaan, sebelum, selama dan pascauji coba. Ia prihatin ketika mengetahui ada anjing bekas uji coba mengakhiri hidupnya di tangan penyuplai daging. Astagfirullah.

Al Quran dalam beberapa surat menyebut Allah telah menciptakan binatang ternak untuk manusia. Ada yang untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih (Al-AnAam, QS 6:142). Tapi, manusia juga diwajibkan untuk menyebut nama Allah waktu menyembelih binatang ternak (Al Haji, QS 22:28, 34).

Sarana pembawa Rezeki
Bukan itu saja, banyak orang mendapat rejeki berkat jasa binatang. Contohnya adalah tukang topeng monyet. Juga para pedagang di kebon binatang (bonbin) yang menjajakan makanan dan minuman kepada para pengunjung. Orang datang ke bonbin karena ada dan ingin melihat binatang-binatang yang ditaruh dalam kandang. Berkat binatang, pedagang dapat rezeki.

Karena itu, ketika diminta pidato pada peresmian shelter/kios pedagang di Bonbin Njurug (nama resminya Taman Satwa Taru Jurug), Solo, tanggal 5 Juni 2016, saya menyampaikan seruan: "Membangun Peradaban di Kebon Binatang". Alasannya, peradaban suatu bangsa tercermin dalam kesejahteraan binatang yang dikrangkeng dalam bonbin bangsa itu.

Sebagai anggota Pramuka, saya memulai sambutan dengan mengajak hadirin untuk menyanyikan lagu "Di sini senang, Di sana senang" dengan mengganti kata senang dengan kenyang. Maksudnya, di sini (manusia yang makan di kios kenyang) dan di sana (binatang dalam kandang juga kenyang).

Latar belakang dinyanyikannya lagu itu adalah sejumlah berita yang mengungkapkan banyak binatang di bonbin hidup sengsara, kelaparan, sakit dan mati akibat tidak diurus sebagaimana mestinya, karena dana untuk binatang-binatang itu dikorupsi (oleh manusia).

Direktur Taman Satwa Taru Jurug Bimo Wahyu Widodo Alhamdulillah sepakat dengan seruan saya. Kios di Bonbin yang terletak di pinggir Bengawan Solo yang diniatkan sebagai pusat konservasi, edukasi dan rekreasi, itu dibiayai oleh dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Toserba Matahari yang disalurkan lewat Dompet Dhuafa (DD).

Pramuka bisa dilibatkan dalam upaya membangun peradaban di bonbin, karena ada satuan Pramuka Sahabat Satwa. Mereka bisa dilatih menjadi pemandu pengunjung dan pembantu petugas kebersihan, pemberi makanan dan minuman serta pemeriksa kesehatan.

*) Penulis adalah wartawan senior, pengamat media, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA periode 1998 sampai dengan 2000, dan Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) periode 2005 s.d. 2010.

***3***

(T.A015/A/S027/S027) 12-06-2016 22:03:26

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga