Bandung (ANTARA News) - Kincir angin, kedai-kedai dan bangunan bergaya Belanda, serta barang-barang khas Negeri Kincir ada di Kampoeng Tulip di Jalan Pasir Pogor Raya Ciwastra, Kota Bandung.

"Karena di sini banyak bangunan Belanda, jadi pihak manajemen mempunyai gagasan untuk membuat tempat wisata dengan suasana Belanda," kata Doni Samudera (55), salah satu penggagas Kampoeng Tulip, di Bandung, Selasa.

"Semua bangunan mempunyai ciri khas Belanda, seperti adanya kincir angin, tanaman, juga berbagai kedai yang bentuknya bercirikan Belanda," katanya.

Pengelola Kampoeng Tulip juga pernah mencoba menanam tulip, yang banyak tumbuh di Belanda.

"Tapi gagal karena iklim yang berbeda, jadi nantinya kita adakan tulip house, kita kondisikan tulip buatan walaupun kedepannya akan ada tulip asli yang kondisinya dikhususkan," kata Doni.

Di kawasan itu, pengunjung juga bisa menyusuri sungai menggunakan perahu beraneka warna di sana. Ada juga penyewaan pakaian khas Belanda untuk anak hingga dewasa, serta galeri barang-barang antik.

Barang-barang di galeri, seperti hiasan dinding, alat rumah tangga dan furnitur, sebagian besar berasal dari dalam negeri.

"Dari luar negeri kami memakai tisu tempel dari Belanda, yaitu servietten, selebihnya dari dalam negeri," kata Tania, pengelola galeri.


Pembangunan

Doni bersama tiga rekannya, Jiko, Panji dan Dewi, menggarap kawasan wisata di bagian timur Kota Bandung itu dari tahun 2012.

Selain pembangunan fasilitas, mereka fokus menanam pohon untuk menyejukkan kawasan.

Pembangunan kawasan itu dilakukan secara bertahap dan sekarang belum sampai 20 persen dari rencana yang selesai. Kawasan itu luasnya kurang lebih satu hektare, dan sekarang baru sekitar 4.000 meter persegi yang selesai dibangun.

Pengelola menargetkan pembangunan kawasan itu bisa selesai dan diresmikan pembukaannya untuk publik tahun depan.

"Ini baru penambahan fasilitas, belum dalam bentuk penguatan karakter, jadi harapannya semoga semua proses segera selesai," kata Doni serta menambahkan bahwa pengelola berencana menambahkan fasilitas belajar bagi anak-anak di kawasan itu.

Meski pembangunannya belum sepenuhnya selesai, pengelola sudah membuka kawasan itu untuk publik. Kampoeng Tulip setiap hari buka pukul 09.00 sampai 17.00. Harga tiket masuknya Rp6.000 pada Senin sampai Jumat dan Rp9.000 pada Sabtu-Minggu dan hari libur.

Pengunjung sudah bisa menikmati fasilitas seperti perahu bebek, perahu sampan, sepeda air, galeri barang antik, pancing ikan, terapi ikan, tempat main, serta tempat memberi makan ikan dan burung.

"Antusias dari pengunjung sangat besar, bahkan di hari biasa bisa sampai 100-200 pengunjung, di hari libur sekitar 400 orang dan long wekend 300 sampai 700 orang yang datang," kata Doni.

Saat ini, ia menambahkan, pengelola belum berani promosi ke khalayak karena pembangunannya belum 100 persen rampung.

Doni mengatakan kebanyakan pengunjung datang ke tempat itu setelah melihat pengguna Internet mengunggah foto-foto Kampoeng Tulip.

"Jadi rata-rata mereka tahu dari pengunjung lain, maka Kampoeng Tulip membuat instagram agar bisa me-repost foto yang pengunjung unggah di Instagram, dengan memberi tanda ke @kampoeng_tulip," katanya.

Pewarta: Syarif Abdullah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2016