Jakarta (ANTARA News) - Tiga warta krusial membayangi langit-langit masa depan Romelu Lukaku. Pertama, spekulasi merebak bahwa ia segera hengkang dari Everton. Kedua, striker berpaspor Belgia itu bersiap berlabuh kembali ke Chelsea.

Ketiga, silakan cari dan temukan perilaku yang membebaskan ketika mengarungi dunia kerja.Dunia kerja, dalam sorot mata Lukaku, tercetus dalam pernyataan, "Dalam pikiran, saya tahu kemana saya berlabuh. Anda dapat menyimpulkan sendiri!"

Ya, silakan menarik kesimpulan, bukan justru meributkan hal-hal remeh temeh meski mengasyikkan di tengah kata-kata tanpa sekerat pun makna.

Berpihaklah kepada gagasan, bukan pertama-tama kepada opini sana-sini, meski berlaku rumus klasik, segala sesuatu bisa saja terjadi di tengah alam kelana dunia kerja yang tidak jarang mengundang ketidakpastian dan meminang spekulasi sana-sini.

Di mata Lukaku, perilaku kerja yang membebaskan sama dan sebangun dengan keinginan segera meninggalkan Everton kemudian membela Chelsea, karena "saya (Lukaku) tahu di mana ia bersarang dan berkembang bagi masa depan."

Akankah striker berpaspor Belgia itu menyerah untuk menerima penawaran sebesar 50 juta pound atau sekitar 862,3 miliar rupiah. Jelas, bukan spekulasi melainkan fokus kepada rumus kerja yang membebaskan.

Satu rumus kerja yang membebaskan, yakni melompat pagar untuk melihat ke dasar gelas pengalaman keseharian. Jika mengisi gelas dengan air kata-kata yang mencerca, mendamprat, dan mencibir, maka kerja layaknya cermin diri.

Chelsea ngotot memboyong Lukaku kembali ke Stamford Bridge. Bermodal dan bersemangat kata-kata bertuah itulah, pekan lalu ayah Lukaku, Roger mempraktekkan warta positif dunia kerja dengan mengusulkan sejumlah alternatif bagi putranya yang berusia 23 tahun itu untuk berpindah bahtera.

Memberi dan menyodorkan sebanyak mungkin alternatif kerapkali bersinggungan rumus kerja yang membebaskan.

Lukaku dilirik Manchester United dan Bayern Muenchen. Direncanakan bahwa kata akhir dapat diwujudkan sebelum perhelatan Piala Eropa 2016. Hanya saja, rencana tinggal rencana, yang akhirnya berujung tunda.

Bagi banyak orang, bagi Lukaku juga, hidup sejatinya terdiri atas kata tunda, tunda, dan tunda. "Saya harus membuat keputusan sebaik mungkin meski sudah ada rencana di kepala. Saya telah lima tahun berlaga (di Inggris). Ada banyak klub yang pernah saya geluti, baik di Jerman maupun di Spanyol."

"Di manapun saya berada dan berlaga, saya ingin meraih juara," katanya menegaskan sebagaimana dikutip dari laman Guardian.

"Selama perayaan penganugerahan gelar Liga Inggris kepada Leicester, saya hanya berdiri sepuluh meter dari trofi itu. Saya kemudian bertekad, saya harus dapat meraihnya di kemudian hari."

Bekerja  yang membebaskan, bukan membentangkan gagasan-gagasan yang melangit kemudian mengabaikan tindakan konkret yang membumi. Dan Lukaku memberi bukti, bahwa ia melesakkan 18 gol di ajang Liga Inggris ketika membela Everton yang akhirnya finis di peringkat kesebelas di akhir musim kompetisi 2015/2016.

Bekerja yang membebaskan layaknya orang yang membajak sawah yang harus melihat ke depan, bukan justru menoleh ke belakang. Lukaku pernah dijual ke West Brom setelah membela the Blues dalam 15 penampilan di seluruh kompetisi.

Tidak ada keajaiban ketika bekerja dengan "passion" yang membebaskan. Selama membela panji West Brom, Lukaku tampil mengesankan dengan membukukan 17 gol dalam 38 pertandingan. Sesudah menuai sukses itulah, ia mendarat ke klub Merseyside secara permanen di musim panas 2014.

Sejak bergabung bersama Everton dengan tebusan mahar sebanyak 28 juta pound, striker subur itu menjaringkan 39  gol dalam 75 penampilan. Ini kali pertama klub itu mencatatkan capaian gemilang setelah kurun 40 tahun.

Pada November 2015, Lukaku melakukan aksi  loncat pagar atau melakukan terobosan dengan menjadi pemain kelima dalam sejarah Liga Inggris sebagai pemain yang mampu mencetak 50 gol sebelum menginjak usia 23 tahun.

Lukaku menerjemahkan kerja yang membebaskan dengan mengukir prestasi gemilang, bukan membesar-besarkan rencana menjulang. Alasannya, perjalanan hidup bagaikan laju kereta rollercoaster, bisa melaju bisa melambat.

Melaju, manakala ia mampu menyejajarkan diri bersama Fowler, Owen, Rooney dan Ronaldo yang teramat subur mencetak gol.

Catatan rekor golnya mengundang decak kagum, terlebih ia masih berusia muda bertalenta. Hanya saja, Lukaku tidak tanpa masalah utamanya berkaitan dengan kualitas, karena Chelsea justru terlempar dari elite sepak bola Inggris, di bawah Manchester City.

Menurut statistik Whoscored.com, Lukaku melepaskan rata-rata 3,4 tembakan setiap laga ketika membela Everton di musim ini.

Dengan mengoleksi 19 gol dalam 27 pertandingan, striker berpaspor Belgia itu mencapai rata-rata dua tembakan. Ini yang perlu ditingkatkan kalau ia masih ingin bertahan dan bersaing dengan striker-striker berkelas di Liga Inggris, sebut saja Jamie Vardy di kubu Leicester.

Terang benderang, bahwa rumus kerja yang membebaskan selalu berkeinginan mencari untuk menemukan setiap tantangan demi prestasi tim, bukan prestasi diri sendiri.

Biar bagaimanapun, Lukaku memerlukan mitra yang mampu berkongsi kompak dengan mencetak sebanyak mungkin gol, bukan banyak-banyakan omong.(***)
 

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2016