Medan (ANTARA News) - Yayasan Jantung Indonesia berharap pemerintah provinsi dan kabupaten/kota memperkuat dukungan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan kesehatan jantung dan pembuluh darah guna menekan angka kematian.

"Meskipun pelayanan kesehatan sudah didanai oleh pemerintah melalui BPJS Kesehatan, namun upaya preventif dan promotif harus lebih gencar dilakukan agar angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi lebih rendah," ujar Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Syahlina Zuhal, di Medan, Jumat.

Syahlina hadir pada pembukaan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) II YJI periode 2013-2018 yang diikuti cabang utama Sumut, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Lampung.

Rakorwil itu bertema "Revitalisasi Organisasi YJI Dalam Menurunkan Kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah di Indonesia", dengan agenda revitalisasi dan reposisi YJI dari aspek hukum dan kelembagaan, serta pengelolaan sistem keuangan YJI dari pusat ke daerah.

Menurut dia, pengurangan angka penyakit jantung bukan hanya akan membantu pemerintah mengurangi anggaran biaya kesehatan, tetapi juga kepentingan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dia menyebutkan, bantuan atau dukungan pengurangan angka penyakit jantung itu bisa dilakukan dengan banyak cara oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

"Meski YJI suatu organisasi yang cukup besar karena telah memiliki 31 kantor cabang utama, 61 kantor cabang, dan 3.700 klub jantung sehat. Namun tetap memerlukan dukungan karena juga untuk kepentingan bersama," katanya pula.

Dia mengakui salah satu kesulitan yang dialami YJI adalah di sektor pendanaan yang menjadi kendala utama untuk melaksanakan program kerja yayasan ini.

"Dengan dukungan yang kuat dari semua pemangku kepentingan, YJI berharap ke depannya kembali berkiprah dengan baik dan dapat memberikan sumbangan maksimal bagi masyarakat dalam mengurangi penyakit jantung dan pembuluh darah yang masuk menjadi penyebab kematian utama di Indonesia," kata dia.

YJI menargetkan bisa menurunkan prevalansi mortalitas penyakit kardiovaskular 14,6 persen dalam 10 tahun.

Ketua YJI Cabang Utama Sumut Erwin Nasution menyampaikan, kerja sama dengan banyak pihak termasuk pemprov dan pemkab/pemkot untuk meningkatkan upaya preventif dan promotif menekan penyakit jantung dan pembuluh darah terus dilakukan.

"Sebagai salah satu daerah yang yang masih memiliki angka penderita penyakit jantung dan pembuluh darah yang tinggi, diakui YJI Sumut memerlukan dukungan kuat untuk melakukan upaya preventif dan promotif untuk menekan angka penyakit tersebut," katanya lagi.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Ismoyo Sumu menyatakan, untuk menjaga jantung tetap sehat adalah harus melakukan keseimbangan gizi, tidak merokok, menekan stres, memperhatikan kestabilan tekanan darah dan berolahraga teratur.

Menurut dia, beberapa tanda-tanda terkena serangan jantung adalah rasa sakit di dada/berdebar, sesak napas dan pingsan mendadak.

"Sering tanda-tanda serangan jantung dinyatakan masyarakat dengan masuk angin atau lebih sering dengan sebutan kena angin duduk, sehingga penanganannya sering salah," katanya pula. Dia mengingatkan, seharusnya segera ditangani medis.

Namun menurutnya lagi, sebaiknya penyakit itu bisa dihindari dengan menjaga kesimbangan gizi, tidak merokok, menghindari stres, menjaga kestabilan tekaan darah dan berolahraga secara teratur.

Pewarta: Evalisa Siregar
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016