Seoul (ANTARA News) - Korea Utara menembakkan tiga peleuru kendali ke arah laut dari pantai timur pada Senin, demikian pihak militer Korea Selatan menyatakan.

Aksi tersebut dilakukan di tengah pertemuan para pemimpin puncak negara-negara anggota G20 di China, yang merupakan sekutu diplomatik utama Pyongyang.

Ketiga rudal itu ditembakkan dari sebuah daerah di selatan ibu kota pada sore hari waktu setempat dan terbang sekitar 1.000 km dan mencapai zona identifikasi pertahanan Jepang, demikian keterangan Kantor Kepala Staf Angkatan Bersenjata Korea Selatan.

"Kami masih menganalisis semua rincian, namun ini adalah ancaman besar bagi kemanan negara kami. Kami menyatakan keprihatinan," kata Kementerian Pertahanan Jepang dalam pernyataan tertulis.

Peluncuran rudal pada Senin merupakan yang terbaru dari rangkaian peluncuran oleh Korea Utara pada tahun ini. Tindakan tersebut melanggar sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang semua aktivitas rudal kendali oleh Pyongyang.

Korea Utara menolak larangan tersebut karena dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional untuk mengembangkan program luar angkasa dan pertahanan diri.

Tidak lama setelah peluncuran tersebut, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bertemu di sela-sela G20.

Mereka sepakat untuk bersama-sama memantau situasi, demikian pernyataan dari Jepang.

Pihak militer Korea Selatan menduga bahwa rudal tersebut berjenis Rudong dengan jarak jangkau menengah. Mereka menunding aksi tersebut sebagai pamer kekuatan yang sengaja dilakukan bertepatan dengan pertemuan G20.

Pada 2014 lalu, Korea Utara menembakkan dua rudal Rodong saat Park dan Abe menemui Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Den Haag untuk merundingkan program senjata Pyongyang.

Kepada Presiden China Xi Jinping, Park mengatakan bahwa uji coba nuklir dan rudal kendali dari negara tetangganya adalah ancaman terhadap perdamaian kawasan dan menjadi hambatan bagi hubungan Seoul dengan Beijing, demikian laporan kantor berita Yonhap.

Dalam pertemuan itu, Xi kembali menegaskan komitmen China untuk membebaskan semenanjung Korea dari nuklir, kata kantor berita Xinhua pada Senin.

Kepada Park, Xi juga mengatakan bahwa Beijing menentang penempatan sistem anti-rudal THAAD di Korea Selatan. Teknologi pertahanan dari Amerika Serikat tersebut ditujukan sebagai respon atas ancaman rudal Korea Utara.

Park menjawab, THAAD tidak akan mengancam kepentingan keamanan negara-negara lain dan tidak akan digunakan jika persoalan nuklir Korea Utara telah diselesaikan, tulis Yonhap yang dikutip Reuters.

(Uu.G005)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2016