Sleman (ANTARA News) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka Konvensi Pengajaran Bahasa Mandarin se-Asia Tenggara atau "ASEAN Chinese Teaching Convention 2016" di Kabupaten Sleman, Sabtu.

Dalam kesempatan tersebut Sultan mengatakan bahwa Bahasa Mandarin saat ini telah menjadi bahasa yang mulai diakui dunia internasional.

"Bahkan di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Bahasa Mandarin telah menjadi bahasa resmi kedua," kata Sultan.

Menurut dia, bahasa itu adalah budaya manusia yang bernilai tinggi yang pertama kali dikenal anak manusia.

"Penguasaan bahasa sangat penting, bukan hanya dari sisi pengucapan dan penulisannya, namun juga dari sisi budaya yang melingkupi asal dari bahasa itu sendiri," katanya.

Ia mengatakan kegagalan memahami pesan verbal dari sebuah bahasa, bisa mengakibatkan bencana. Memahami terjemahan saja tidak cukup, tetapi harus dipahami budaya dan ekspresi verbal.

"Selain itu juga etika sapa-menyapa harus menjadi perhatian juga," katanya.

Ketua Panitia Pelaksana Konvensi Pembelajaran Bahasa Mandarin se Asia Tenggara ke 11 Yudi Sutanto mengatakan merasa terhormat dan bahagia karena Indonesia, khususnya Yogyakarta ditunjuk sebagai tuan rumah konvensi.

"Seminar ini adalah seminar pendidikan dan pengajaran Bahasa Mandarin se Asia Tenggara yang merupakan wadah pertemuan ilmiah para akademisi yang ahli bidang Mandarin dari negara-negara Asia Tenggara serta Tiongkok, Taiwan, dan Hongkong," katanya.

Ia mengatakan, sejarah pendidikan Bahasa Tionghoa di Indonesia telah lebih dari 100 tahun.

"Saat ini di Indonesia telah telah didirikan enam Pusat Bahasa Mandarin di enam perguruan tinggi dan telah ada sekitar 30 perguruan tinggi di Indonesia membuka program Bahasa Mandarin. Pelajaran Bahasa Mandarin juga telah diajarkan sebagai pelajaran pilihan bahasa asing di tingkat sekolah menengah," katanya.

Penasehat Konvensi Pembelajaran Bahasa Mandarin se Asia Tenggara ke 11 Djawadi mengatakan peserta konvensi yang hadir tidak kurang dari tujuh negara, antara lain Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Indonesia.

"Hadir pula pakar-pakar dan para profesor dari lembaga pendidikan di Tiongkok dan Taiwan, serta pimpinan sekolah tiga bahasa dari beberapa kota, dan beberapa prodi Bahasa Mandarin dari PTS di Indonesia," katanya.

Menurut dia, agenda konvensi yang akan didiskusikan meliputi perkembangan Bahasa Mandarin di negara-negara Asia Tenggara dan akan didiskusikan secara detail melalui beberapa komisi dengan tim, antara lain kurangnya tenaga pengajar, keterbatasan dana, penyediaan buku-buku pelajaran yang sesuai untuk masing-masing negara.

"Membahas juga mengenai kerja sama antar negara ASEAN antara lain yaitu meningkatkan jalinan hubungan antarnegara ASEAN, saling mengunjungi dalam bentuk studi banding, saling tukar ilmu dan pengalaman," katanya.

Djawadi mengatakan, perkembangan ekonomi dan teknologi di Tiongkok yang sangat pesat menjadikan Bahasa Mandarin sebagai bahasa komunikasi yang sangat penting setelah bahasa Inggris.

"Apalagi dalam era globalisasi sekarang, turis-turis dan investasi dari negara Tiongkok semakin meningkat drastis, sehingga mulai sekarang perlu menyiapkan SDM yang berkualitas dan cakap yang bisa menguasai Bahasa Mandarin dengan baik," katanya.

Pewarta: Victorianus SP
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016