Istanbul (ANTARA News) - Festival budaya paling lama yang pernah diselenggarakan diluncurkan pada Rabu di Istanbul, kota paling padat di Turki, dalam upaya menghidupkan kembali sektor pariwisata dan perdagangan --yang dilanda serangan teror dan upaya kudeta.

Apa yang dinamakan Beyoglu Festival akan berlangsung selama 50 hari di Bundaran Taksim, yang bersejarah di Beyoglu --kabupaten di jantung Kota Istanbul yang terkenal sampai belum lama ini karena kehidupan malamnya dan sebagai pusat seni, rancang-bangun dan mode, lapor Xinhua-OANA.

Daerah itu kehilangan kegemilangannya saat makin banyak toko, restoran, kafetaria dan galeri seni, termasuk yang berada di tempat terkanl Istiklal Avenue, ditutup setelah serangkaian serangan pemboman bunuh diri selama setahun belakangan dan upaya kudeta pada 15 Juli. Sedikitnya 120 orang kehilangan nyawa, sementara peristiwa tersebut membuat pelancong asing tak berani datang ke Turki.

"Serangan teror dan upaya kudeta yang gagal telah mengakibatkan tekanan sangat besar atas pemilik toko dan wisatawan," kata Ahmet Misbah Demircan, Wali Kota Beyoglu, saat upacara pembukaan festival itu. "Beyoglu, yang telah menjadi pusat seni, mode dan inovasi selama berabad-abab, akan menjadi tempat yang lebih terang dengan festival ini," katanya.

Festival tersebut diharapkan menarik 400 pedagang barang antik terkenal, pedagang buku bekas, perancang, artis kerajinan dan ilmuwan dari seluruh negeri itu.

"Kami berada di sini untuk mendukung Beyoglu," kata Talat Turnalar, seorang pedagang record player antik, sebagaimana dikutip Xinhua. "Pada masa lalu, Beyoglu adalah pusat tempat orang dapat berkunjung tanpa ada keraguan atau tanpa rasa takut terhadap serangan teror."

"Kami mau Beyoglu kembali ke hari-harinya pada masa lalu," kata Turnalar.

Ugur Ozay, seorang pedagang barang antik, mengatakan festival itu akan menjadi kesempatan sangat baik untuk mempersatukan orang setelah serangan teror mengerikan dan upaya kudeta.

"Harapan kami sangat tinggi," katanya. "Itu akan berhasil menyatukan orang di bawah perikemanusiaan kebudayaan dan seni."
(Uu.C003)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2016