Bangui (ANTARA News) - Sebelas orang tewas dalam bentrokan di ibukota Republik Afrika Tengah pada pekan ini, yang dipicu pembunuhan seorang perwira angkatan darat, kata penjaga perdamaian PBB, Kamis.

Pertempuran meletus di kawasan PK5 Bangui, kantong Muslim di ibukota negara berpenduduk mayoritas Kristen itu, setelah Komandan Marcel Mombeka, mantan pembantu mantan Presiden Catherine Samba-Panza, ditembak mati di dalam mobilnya pada Selasa.

Republik Afrika Tengah dilanda kekerasan antar-agama sejak 2013 ketika petempur Muslim Seleka merebut kekuasaan, sehingga mencetuskan balas dendam dari milisi Kristen, yang dikenal sebagai anti-balaka.

"Pada tahap ini, kami pikir, semua korban adalah warga," kata juru bicara misi PBB Herve Verhoosel, tidak termasuk perwira militer pertama terbunuh. Sebanyak 14 orang masih hilang dan 14 lagi cedera.

Pertempuran di antara kelompok bersenjata juga menewaskan setidaknya enam warga di provinsi wilayah baratlaut pekan lalu, dimana para penyerang tak dikenali menembaki tim penjaga perdamaian PBB sehingga melukai seorang personel, kata Verhoosel.

Meskipun pemilu Februari banyak dipuji sebagai satu langkah menuju rekonsiliasi, pemberontak dan milisi masih menyisir sebagian besar wilayah di negara itu selain di ibukota, dan bentrokan sering terjadi.

Pertempuran pada pekan ini merupakan langkah mundur bagi kawasan PK5, yang relatif tenang sejak Paus Francis berkunjung pada November dan mendesak diakhirinya lingkaran kekerasan. Sebelumnya, para petempur anti-balaka mengepung dan melarang Muslim keluar dari kawasan itu, demikian Reuters melaporkan.

(B002)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2016